Kab. Bandung Barat – Polda Jawa Barat mengonfirmasi sebanyak 10 kantong jenazah korban longsor Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB) telah masuk ke Posko Disaster Victim Identification (DVI) hingga Sabtu (24/1/2026) pukul 16.00 WIB.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Hendra Rochmawan mengatakan, dari total 10 kantong jenazah tersebut, delapan ditemukan dalam kondisi utuh, sementara dua lainnya berupa bagian tubuh korban.
“Kami sampaikan bahwa di Pos DVI saat ini terdapat 10 kantong jenazah. Dari jumlah tersebut, 6 jenazah telah teridentifikasi dan dikonfirmasi oleh pihak keluarga,” ujar Hendra di lokasi.
Enam Jenazah Teridentifikasi, Dua Masih Proses Identifikasi
Hendra merinci, selain enam jenazah yang telah teridentifikasi, satu bagian tubuh berupa tangan telah berhasil dikenali melalui pembanding sidik jari. Sementara itu, satu bagian tubuh berupa kaki masih menunggu proses identifikasi DNA.
Tim DVI Polda Jabar terus bekerja untuk mempercepat proses identifikasi, seiring dengan bertambahnya temuan korban dari lokasi longsor.
71 Warga Masih Dilaporkan Hilang
Berdasarkan data terakhir posko pengaduan, hingga Sabtu sore, sekitar 71 warga masih dilaporkan hilang akibat longsor yang menerjang kawasan permukiman dan lahan pertanian di kaki Gunung Burangrang tersebut.
“Angka 71 ini masih merupakan perkiraan berdasarkan data posko pengaduan. Dari laporan tersebut, sebanyak 23 korban sudah teridentifikasi. Jika 71 dikurangi 23, maka tersisa sekitar 40 korban,” jelas Hendra.
Proses pencarian korban untuk sementara dihentikan akibat kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dan akan kembali dilanjutkan pada Minggu (25/1/2026) oleh tim gabungan.
“Karena kondisi cuaca belum memungkinkan, proses penggalian sementara dihentikan dan akan dilanjutkan besok. Kami berharap seluruh korban yang hilang dapat segera ditemukan,” kata Hendra.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa alih fungsi lahan menjadi faktor utama penyebab longsor di Desa Pasirlangu. Menurutnya, kawasan yang seharusnya menjadi daerah resapan dan penahan tanah justru berubah menjadi lahan pertanian intensif.
“Iya kan sudah jelas (alih fungsi lahan). Kan sudah bisa dilihat sekeliling ini kebun pakai plastik tanamnya dan di atasnya kebunnya sudah sampai ke puncak,” ujar Dedi di lokasi bencana.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkomitmen melakukan evaluasi tata ruang untuk mencegah terulangnya bencana serupa di wilayah rawan longsor.(Cie)

















