KAB. BANDUNG BARAT – Lebih dari sepekan pasca longsor yang melanda tiga kampung di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (24/1/2026), jejak kehancuran masih membekas. Puluhan rumah warga hilang atau rusak berat, tertimbun material longsor berupa tanah, lumpur, dan bongkahan batu berukuran raksasa.
Bongkahan batu dengan diameter lebih dari satu meter kini berserakan di area permukiman dan kebun warga. Material yang sebelumnya tak pernah ada itu menutup akses jalan kampung sekaligus memutus sumber penghidupan warga setempat.
Data sementara mencatat 48 rumah terdampak, baik terseret maupun mengalami kerusakan berat. Sementara itu, 80 warga dilaporkan hilang, menjadikan longsor Pasirlangu sebagai salah satu bencana tanah bergerak paling mematikan di wilayah Bandung Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Tim ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melakukan kajian geologi mendalam di lokasi bencana. Hasil penyelidikan menunjukkan longsor bersumber dari lereng pegunungan vulkanik tua di kawasan kaki Gunung Burangrang.
Penyelidik Bumi Ahli Utama PVMBG, Anjar Heriwaseso, menjelaskan longsoran berasal dari gawir mahkota di ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut, dengan tinggi tebing longsor mencapai 80 meter dan lebar sekitar 40 meter.
Material longsoran meluncur sejauh tiga kilometer, dengan perbedaan elevasi antara hulu dan zona landaan mencapai 800 meter. Kemiringan lereng yang ekstrem membuat material bergerak cepat hingga menghantam kawasan permukiman.
“Di bagian hulu terlihat tebing sangat curam akibat ketidakstabilan lereng. Material di bawahnya tergerus aliran air kuat, membentuk lembah berundak berbentuk V,” jelas Anjar.
PVMBG memperingatkan, potensi gerakan tanah susulan masih terbuka lebar. Kondisi geologi berupa batuan gunung api tua yang telah lapuk, keberadaan rekahan dan sesar, serta jalur aliran air menjadi faktor yang memperparah kerentanan lereng, terutama saat hujan kembali turun.
“Pemicu utamanya adalah curah hujan tinggi. Jika hujan di atas normal, risiko longsor lanjutan sangat mungkin terjadi,” tegasnya.
Berdasarkan Peta Zona Kerentanan Gerakan Tanah (ZKGT), wilayah Pasirlangu masuk kategori zona menengah, yang berarti longsor dapat terjadi sewaktu-waktu apabila kondisi lereng terganggu.
“Bukan hanya Pasirlangu. Lembah-lembah lain dengan morfologi dan geologi serupa juga memiliki potensi kejadian yang sama,” tandasnya.(*)














