SUKABUMI – Fenomena generasi muda yang kian sulit memiliki rumah menjadi sorotan CEO Mahirland Group, Gerian Satria Wibawa. Dalam keterangannya di Kantor Basya Investama, Jalan Suryakencana, Kota Sukabumi, ia menilai persoalan BI Checking atau yang kini dikenal sebagai SLIK OJK menjadi salah satu hambatan utama pengajuan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Menurut Gerian, banyak calon pembeli rumah gagal lolos verifikasi bank bukan karena tidak memiliki penghasilan, melainkan akibat riwayat kredit bermasalah. Ironisnya, catatan negatif tersebut kerap dipicu oleh tunggakan pinjaman online (pinjol) dengan nominal relatif kecil.
“Banyak pengajuan KPR terhambat hanya karena riwayat kredit buruk. Bahkan ada yang terkendala tunggakan pinjol di bawah seratus ribu rupiah,” ujarnya saat mempersiapkan peluncuran Perumahan SARASALAND di Jalan Sarasa, Cibeureum, serta Belva Residence di Jalan Baros.
Ia menjelaskan, seluruh pinjol legal yang terdaftar dan diawasi OJK wajib melaporkan aktivitas pembayaran nasabah ke sistem SLIK OJK. Ketika terjadi keterlambatan atau gagal bayar, skor kredit otomatis menurun dan tercatat dalam kolektibilitas bermasalah.
Skor kredit pada level kolektibilitas 3 hingga 5, lanjutnya, berdampak serius. Nasabah akan kesulitan mengakses layanan perbankan, mulai dari KPR, kredit kendaraan, hingga kartu kredit. Bahkan pada status macet (kolektibilitas 5), riwayat tersebut dapat bertahan cukup lama dan mempersulit proses persetujuan kredit di masa mendatang.
Gerian menyarankan masyarakat yang sudah terlanjur memiliki catatan kurang baik agar segera melakukan pembenahan. Langkah pertama adalah melunasi seluruh kewajiban, termasuk bunga dan denda. Setelah itu, debitur perlu meminta Surat Keterangan Lunas (SKL) sebagai bukti resmi untuk pembaruan data di SLIK OJK.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar lebih berhati-hati sebelum mengambil pinjaman, terutama dari pinjol ilegal. Meski tidak tercatat dalam SLIK OJK, praktik pinjol ilegal dinilai berisiko tinggi karena kerap melakukan penagihan yang merugikan dan melanggar privasi.
“Jangan sampai keputusan finansial yang terlihat kecil hari ini justru menutup peluang besar di masa depan, termasuk impian memiliki rumah sendiri,” tegasnya.
Gerian berharap literasi keuangan masyarakat semakin meningkat sehingga generasi muda dapat merencanakan masa depan properti mereka dengan lebih matang dan terhindar dari jebakan utang konsumtif.















