JAKARTA — Anies Baswedan melontarkan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi dan lingkungan di Indonesia. Ia menilai tengah terjadi ketimpangan serius, di mana kerusakan lingkungan justru terjadi ketika kesejahteraan rakyat belum tercapai.
Hal tersebut disampaikan Anies saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I Gerakan Rakyat di Jakarta Pusat, Sabtu (17/1). Menurutnya, kondisi Indonesia saat ini menunjukkan ironi pembangunan yang tidak adil secara ekonomi maupun ekologi.
Anies menjelaskan, di banyak negara maju, kerusakan lingkungan umumnya terjadi setelah masyarakat mencapai tingkat kesejahteraan tertentu. Namun di Indonesia, pola tersebut justru terbalik.
“Di banyak tempat, perekonomian memajukan seluruh rakyat, lalu perekonomian dikembangkan terus sampai merusak lingkungan. Ketika lingkungan rusak, rakyat sudah mendapatkan kesejahteraan. Nah di Indonesia ini, perekonomiannya belum mensejahterakan rakyat, tetapi lingkungannya juga sudah rusak,” ujar Anies.
Ia menegaskan bahwa ketidakadilan ekonomi dan ekologi berjalan beriringan. Eksploitasi sumber daya alam, kata Anies, kerap tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah eksploitasi.
Untuk itu, Anies mendorong perlunya pendekatan pembangunan ekonomi-ekologi yang mengedepankan keadilan bagi manusia sekaligus kelestarian alam. Menurutnya, arah pembangunan harus segera dikoreksi agar tidak terus memperlebar ketimpangan.
Lebih lanjut, Anies menyoroti persoalan deforestasi di Indonesia. Berdasarkan data yang ia sampaikan, mayoritas kerusakan hutan justru terjadi secara legal akibat kebijakan dan regulasi yang berlaku.
“Menurut data, lebih dari 90 persen, bahkan 97 persen adalah legal. Jadi memang benar ada pembalakan liar, tapi mayoritas terbesar adalah legal. Artinya, ada regulasi, ada aturan main yang harus dikoreksi,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa solusi deforestasi tidak cukup hanya dengan penegakan hukum di lapangan. Jika kerusakan terjadi secara legal, maka yang perlu dibenahi adalah kebijakan di tingkat pemerintah pusat.
Selain itu, Anies mengapresiasi Gerakan Rakyat yang menjadikan isu ekologi sebagai agenda utama. Ia juga menyinggung bencana alam yang baru-baru ini terjadi di Sumatera sebagai peringatan keras bagi semua pihak.
“Peringatan itu hanya berguna kalau kita kemudian berbuat setelah ada peringatan. Tapi kalau ada peringatan dan kita tidak berbuat, tidak ada gunanya,” tandas Anies. (*)

















