Dari Lapangan Sekolah ke Panggung Dunia, Revo Priliandro Tembus Liga Hoki Eropa

BANDUNG – Tak pernah terlintas dalam benak Revo Priliandro bahwa hoki olahraga yang sempat ia ejek justru akan menjadi jalan hidup yang membawanya ke panggung dunia. Lahir di Sukabumi, 22 April 1997, Revo tumbuh sebagai remaja biasa dengan mimpi yang kala itu bahkan belum terbentuk.

Semua bermula saat ia duduk di bangku SMA kelas 1. Seorang guru olahraga bernama Pak Rahmat (alm) pembina ekstrakurikuler futsal sekaligus pelatih hoki mengajaknya ikut latihan hoki. Bukan karena bakat, apalagi ambisi, melainkan demi “menyelamatkan” cabang olahraga hoki agar bisa dipertandingkan di Pekan Olahraga Kabupaten (PORKAB) yang terancam batal akibat minim peserta.

Bacaan Lainnya

Pak Rahmat mengajak anak-anak futsal untuk turun tangan. Revo datang ke tempat latihan dengan perasaan setengah hati. Bahkan, ia sempat mengejek dan mempertanyakan apa menariknya olahraga tersebut. Namun demi menghormati sang guru, ia memilih mencoba.

Hanya satu minggu latihan, Revo dan rekan-rekannya langsung diterjunkan ke PORKAB. Hasilnya tak mengejutkan: kalah telak dari tim-tim yang telah lama menekuni hoki. Kekalahan itu menyadarkannya akan jurang besar antara sekadar mencoba dan benar-benar menekuni.

Namun justru pada malam penutupan PORKAB, hidup Revo berbelok arah. Ia menyaksikan para juara naik podium, menerima medali emas, diiringi lagu “We Are The Champions”. Momen sederhana, namun membekas kuat.

“Di situ hati saya bilang, suatu saat saya pengen ngerasain suasana kayak gitu,” kenangnya.

Perjalanan Revo tak lahir dari latar yang mudah. Ia kehilangan ayahnya sejak kecil. Tahun 2009 menjadi fase berat ketika ia harus tumbuh tanpa figur ayah yang membimbingnya secara langsung. Rasa iri kerap muncul saat melihat teman-temannya masih memiliki sosok ayah, namun Revo memilih berdamai.

“Hidup sudah ada garisnya masing-masing,” ujarnya.

Berasal dari keluarga sederhana, Revo justru lebih sering menerima keraguan ketimbang dukungan. Hoki dianggap tak menjanjikan masa depan. Postur tubuhnya dinilai terlalu kecil untuk menjadi atlet. Prestasi pun belum terlihat kala itu. Namun semua keraguan tersebut justru menjadi bahan bakar, Revo memilih menjawabnya dengan kerja keras dan konsistensi.

Langkah hidupnya ditempa lewat pendidikan yang berpindah-pindah. Ia mengawali sekolah di SDN 1 Lembur Sawah, Sukabumi, melanjutkan ke SMPN 3 Tangerang Selatan, kemudian SMAN 11 Garut. Pendidikan tinggi ia tempuh di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.

Akademik dan olahraga dijalani beriringan. Hingga pada 2025, Revo kembali mencatatkan pencapaian penting dengan meraih beasiswa LPDP untuk melanjutkan studi S2 di UPI.

Keraguan perlahan runtuh seiring prestasi yang mulai berbicara. Revo menjelma menjadi salah satu pilar Tim Nasional Hoki Indonesia. Medali emas mengalir, di antaranya emas PON Papua 2021, emas PON XXI Sumut 2024 disertai gelar top skor, serta berbagai gelar juara di Porprov dan Kejurnas.

Di level internasional, namanya semakin diperhitungkan. Ia mengoleksi emas SEA Games 2023 dan 2025, tampil di Asian Games, hingga merasakan atmosfer kompetisi Eropa bersama klub di Ceko dan Austria. Tak hanya tampil, ia juga beberapa kali meraih penghargaan individu pemain terbaik.

Puncaknya, pada Januari 2026, Revo dijadwalkan bertolak ke Polandia untuk bergabung dengan Ludowy Klub Sportowy (LKS) Gasawa, juara Liga Utama Hoki Indoor Polandia. Bersama klub tersebut, ia akan tampil bersama tim  itu di Euro Indoor Hockey Club Trophy 2026 Vienna 13-15 february, euro indoor club trophy itu kejuaraan club yg dimana pesertanya adalah juara dari masing-masing negaranya.

Bagi Revo, pencapaian ini bukan semata prestasi pribadi. Lebih dari itu, ia memandangnya sebagai tanggung jawab moral.

“Yang muda harus terus berlatih keras. Suatu saat mereka akan menggantikan kami. Mudah-mudahan bisa mencetak sejarah baru dan membawa hoki Indonesia lebih dikenal di dunia,” tuturnya.

Dari lapangan sekolah yang dulu penuh ejekan, dari hidup yang dibayangi keraguan, Revo Priliandro (28) membuktikan bahwa mimpi tak menuntut latar sempurna. Cukup keyakinan, ketekunan, dan keberanian untuk terus berjalan.

Dan lagu “We Are The Champions” yang dulu hanya ia dengar dari kejauhan, kini berulang kali mengiringi langkahnya di podium juara. (Chen)

Pos terkait