KAB. BANDUNG – Kerusakan lahan, penyempitan kawasan resapan air, dan ancaman hilangnya tutupan hijau terus membayangi wilayah perbukitan Gambung, Kabupaten Bandung. Di tengah kondisi tersebut, komunitas motor klasik TS Owner Bandung (TOB) mengambil langkah konkret dengan menanam 2.000 bibit pohon, Sabtu (17/1/2026).
Aksi ini menjadi pengingat bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada pemerintah atau lembaga formal semata. Bahkan komunitas hobi yang kerap diasosiasikan dengan aktivitas bermotor dan eksplorasi alam, justru menunjukkan sikap korektif terhadap dampak ekologis yang kerap ditimbulkan aktivitas manusia.
Penanaman dilakukan di tiga titik strategis, yakni Ranca Cangkuang, sempadan sungai, dan kawasan Malaberes wilayah yang dinilai rentan mengalami degradasi lahan dan gangguan keseimbangan ekosistem. Pemilihan lokasi dan jenis tanaman disesuaikan dengan karakter tanah dan fungsi ekologis kawasan, sebagai upaya rehabilitasi jangka panjang, bukan sekadar aksi simbolik.

Ketua Umum TS Owner Bandung, Heru Khoeruman Farid, menegaskan bahwa kegiatan ini lahir dari kesadaran kolektif komunitas untuk tidak hanya menikmati alam, tetapi juga memulihkan dan menjaganya.
“Komunitas motor sering berada di alam terbuka. Kalau kami hanya datang, menikmati, lalu pergi tanpa memberi dampak positif, itu tidak adil. Menanam pohon adalah bentuk tanggung jawab kami,” ujar Heru.
Ia mengakui bahwa kontribusi komunitas mungkin tidak besar jika dibandingkan skala kerusakan lingkungan yang terjadi. Namun, menurutnya, aksi nyata jauh lebih bermakna dibanding sekadar wacana kepedulian.
“Kalau semua merasa kontribusinya kecil lalu tidak berbuat apa-apa, kerusakan akan terus berjalan. Kami memilih bertindak,” tegasnya.

Dalam pelaksanaan kegiatan ini, TOB berkolaborasi dengan Yayasan Panata Giri Raharja yang dibina oleh Eyang Memet, tokoh konservasi yang dikenal konsisten memperjuangkan perlindungan ekosistem lokal. Kolaborasi ini dimaksudkan agar penanaman pohon tidak berhenti pada seremoni, tetapi disertai pemahaman ekologis dan perawatan berkelanjutan.
“Beliau bukan hanya menanam, tapi merawat dan mendidik. Itu penting, karena menanam pohon tanpa perawatan hanya akan menjadi angka statistik,” kata Heru.
Lebih jauh, aksi ini juga dimaksudkan sebagai edukasi lingkungan, khususnya bagi generasi muda, agar krisis ekologis tidak dianggap sebagai isu abstrak.

“Kalau lingkungan terus rusak, anak cucu kita mungkin hanya mengenal pohon dari buku atau cerita. Itu bukan masa depan yang ingin kami wariskan,” pungkasnya.

















