BANDUNG – Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) menegaskan komitmen sebagai institusi pendidikan bisnis berdampak dalam perayaan Dies Natalis ke-22 yang digelar di Kampus SBM ITB, Bandung, Rabu (11/2/2026). Momentum ini dirangkaikan dengan kegiatan Societal Impact dan Anugerah Avirama Nawasena Award (AAN) 2026.
Pada Dies Natalis ke-22 ini, SBM ITB menekankan pentingnya pendidikan bisnis yang mendorong ekonomi berkelanjutan melalui inovasi, kolaborasi multidisiplin, serta penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).
Anugerah Avirama Nawasena merupakan penghargaan tahunan SBM ITB bagi individu, korporasi, UMKM, dan NGO yang dinilai berhasil mengimplementasikan prinsip ESG dalam praktik bisnis. Ajang ini menjadi bagian dari komitmen SBM ITB dalam mempromosikan tanggung jawab bisnis untuk mendukung ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.
Dekan SBM ITB, Aurik Gustomo, menyampaikan bahwa sejak berdiri pada 2003, SBM ITB terus berkembang sebagai sekolah bisnis yang berlandaskan leadership, entrepreneurship, dan innovation.
“SBM ITB tidak boleh hanya berbicara tentang menghasilkan lulusan. Kami harus memberi kontribusi di level nasional maupun internasional. Dalam lima tahun ke depan, SBM ITB menargetkan semakin impactful,” ujarnya.
Menurutnya, penguatan pendidikan bisnis berdampak diwujudkan melalui kolaborasi multidisiplin, antara lain dengan SAPPK ITB, integrasi sarjana–magister bersama Sekolah Farmasi melalui MBA Healthcare, hingga penjajakan kerja sama dengan Airbus untuk pengembangan aviation business. SBM ITB juga menargetkan pengembangan 10 program societal impact yang terintegrasi dengan riset dan pengabdian masyarakat, selaras dengan SDG 8 (Decent Work and Economic Growth).
Dalam Discussion Knowledge Management Forum bertema “Transformasi Pendidikan Bisnis Berdampak untuk Mempercepat Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan”, para narasumber menyoroti pentingnya konsistensi implementasi keberlanjutan.
Prof. Dr. Miming Miharja dari SAPPK ITB menekankan bahwa tantangan utama terletak pada implementasi kebijakan dan konsistensi institusi dalam memaksimalkan dampak positif serta meminimalkan dampak negatif aktivitas bisnis.
Sementara itu, Dedy Sushandoyo dari SBM ITB menegaskan pentingnya pendekatan triple bottom line—people, planet, profit—serta penguatan SBM ITB sebagai pusat entrepreneurial business dan thought leadership berbasis ekosistem.
Dari kalangan praktisi, Founder/CEO RAW Lab, Rendy Aditya Wachid, menunjukkan bahwa inovasi bisnis ramah lingkungan dapat menjadi solusi sekaligus tetap menguntungkan. Melalui pengolahan limbah menjadi material bangunan, perusahaannya telah melayani puluhan klien dan meraih berbagai penghargaan.
Selain forum diskusi, SBM ITB juga menghadirkan Pameran Societal Impact yang menampilkan UMKM dan startup binaan. Salah satunya Aseta, startup manajemen aset berbasis cloud yang dibina melalui The Greater Hub SBM ITB. Program inkubasi ini mendukung mahasiswa dan wirausahawan muda melalui mentoring, workshop, fasilitas kerja bersama, hingga akses pendanaan.
UMKM Gula Aren Putra Tunggal juga turut berpartisipasi. Pemiliknya mengaku pelatihan pemasaran dari SBM ITB membantu meningkatkan penjualan produknya.
Melalui rangkaian Dies Natalis ke-22 ini, SBM ITB menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan bisnis di Bandung yang tidak hanya berorientasi akademik, tetapi juga berkomitmen menciptakan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara berkelanjutan.(*)














