BANDUNG – Obyek wisata Dusun Bambu di Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) konsisten mengusung eduwisata berbasis budaya sunda dalam pengelolaannya.
Bukan hanya semata bisnis oriented dalam pengembangannya, Dusun Bambu terus menerus menjadi ruang edukasi pelestarian budaya dalam setiap langkahnya.
Tak heran, jika wisatawan memasuki kawasan Dusun Bambu ekosistem lingkungan seolah kita masuk di kampung adat yang ada di Jawa Barat seperti Kampung Naga dan Kasepuhan Gelar Alam.
Arsitektur setiap bangunan yang ada di Dusun Bambu mengadopsi rumah-rumah adat sunda didominasi rumah panggung, atap bambu dan atap bahan alam. Bahkan beberapa bangunan mangadopsi ‘Leuit’ atau lumbung padi masyarakat agraris Jawa Barat.
Tak tanggung-tanggung, untuk membangun miniatur bangunan adat ini Dusun Bambu melibatkan tenaga ahli dari warga kampung adat, pun material yang digunakan didatangkan langsung dari asalnya.
Begitupun lanscape kawasan wisatanya, Dusun Bambu mengacu pada tatanan tradisi di kampung adat, sentuhan ‘Leweung Larangan’, ‘Leweung Baladahan’ dan Pemukiman pada bagian bawah mengadopsi tatanan kontur yang syarat nilai budaya sunda.
Meski obyek wisata, sejak awal Dusun Bambu teguh memegang kearifan ekosistem lingkungan masyarakat sunda. Kearifan masyarakat sunda pada tata kelola keseimbangan alam dan manusia menjadi tali kekang pengembangan wisata Dusun Bambu.
Sejak berdiri Dusun Bambu bukan hanya sekedar menawarkan kesejukan dan kenyamanan berwisata bagi pengunjung, Dusun Bambu menjadi miniatur kampung adat sunda sekaligus menjadi wilayah konservasi ratusan jenis pohon Bambu yang menggugah kesadaran wisatawan akan pentingnya merawat alam.
Tak hanya mengadopsi nilai luhur tata cara masyarakat adat menata alam, Dusun Bambu juga senantiasa menawarkan pengetahuan nilai-nilai budaya pada keseharian masyarakat adat.
Salah satunya melalui agenda tahunan ‘Gelar Budaya’, event ini menampilkan kegiatan budaya Hajat Bumi yang biasanya ada di kampung adat Gelaralam.

Rangkaian Hajat Bumi diawali dengan doa bersama dipimpin sesepuh sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen yang melimpah di tahun ini. Semua hasil pertanian seperti padi, pisang, singkong, jagung dan ubi sebagai simbol kehidupan diarak keliling area wisata.
Tak lupa, arak-arakan juga diiringi kesenian tradisional seperti Rengkong, kesenian penyemangat saat masyarakat mengangkut padi untuk disimpan dalam lumbung. Yang tak kalah menarik, meski hanya ajang tampilan kreasi pengunjung seolah melihat langsung rangkaian acara seperti di kampung adat terbukti dengan adanya angklung dogdog lojor asal Banten.
Melalui Gelar Budaya 2025, pengunjung bisa menyaksikan ritual Hajat Bumi yang memiliki nilai penghormatan dan rasa syukur hasil panen, arak-arakan hasil bumi diakhiri pementasan Wayang Golek juga dalam momen ini pengunjung bisa menikmati makanan tradisional masyarakat sunda seperti beubeutian.

Acara ini rutin digelar sebagai wujud harmoni antara bisnis pariwisata, keseimbangan alam dan edukasi warisan budaya Sunda.
Art & Event Manager Dusun Bambu, Eric, mengatakan kegiatan ini menjadi momentum bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi dan kesejahteraan yang diperoleh.
“Dalam suasana alam pegunungan yang sejuk, Hajat Bumi menjadi simbol hubungan manusia dengan alam, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur yang telah diwariskan turun-temurun,”ujar Eric di Parongpong, Sabtu (8/11/2025).
Ia menjelaskan, ritual yang diawali dengan doa bersama, persembahan hasil bumi, dan prosesi adat tersebut menjadi pembuka rangkaian kegiatan Gelar Budaya Dusun Bambu 2025.
Setelah itu, berbagai kegiatan seni dan budaya berlangsung meriah, mulai dari pertunjukan tari tradisional, pameran UMKM, hingga kuliner khas Sunda yang disajikan langsung oleh warga sekitar.
“Melalui Gelar Budaya, kami ingin menghadirkan pengalaman yang bukan hanya menghibur, tetapi mengenal kebudayaan”. Pungkasnya.

















