Pengungsi Longsor Pasirlangu Mulai Dipulangkan, Akses Air Bersih Jadi Persoalan Utama

KAB. BANDUNG BARAT – Sejumlah penyintas longsor Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), mulai meninggalkan posko pengungsian di balai desa dan GOR setempat. Pemulangan dilakukan menyusul hasil pemetaan zona rawan longsor oleh Badan Geologi yang menyatakan sebagian wilayah berada di zona kuning atau relatif aman untuk kembali dihuni.

Namun, pemulangan ini belum sepenuhnya menandai berakhirnya krisis yang dialami warga. Sebab, mayoritas pengungsi sejak awal bukan meninggalkan rumah karena bangunan rusak, melainkan akibat terputusnya akses air bersih setelah sumber air tertimbun material longsor.

Bacaan Lainnya

Warga dari RW 10, RW 11, dan RW 12 Desa Pasirlangu hampir sepekan terpaksa mengungsi meski rumah mereka tidak terdampak langsung longsor. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak bencana tidak selalu berbentuk kerusakan fisik bangunan, tetapi juga runtuhnya infrastruktur dasar penopang kehidupan.

“Sebetulnya ini bukan pengungsi utama yang rumahnya rusak atau hancur. Tapi karena mereka kehilangan akses air bersih, tetap harus kami tampung di pengungsian,” ujar Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, Minggu (1/2/2026).

Ia menjelaskan, pengungsian dibagi di dua lokasi. Di aula desa tercatat 57 kepala keluarga (KK) dengan 131 jiwa, sementara di GOR desa terdapat 44 KK dengan total 133 jiwa. Dari jumlah tersebut, sekitar tiga perempat warga mulai dipulangkan secara bertahap.

“Targetnya sekitar 200 jiwa sudah kembali ke rumah. Sisanya masih harus bertahan di pengungsian karena rumahnya berada di zona merah dan direncanakan untuk direlokasi,” jelasnya.

Selama berada di pengungsian, kebutuhan logistik seperti beras, makanan, dan sembako relatif terpenuhi. Kendala paling krusial justru pada ketersediaan air bersih, baik untuk konsumsi, memasak, maupun sanitasi.

Saat ini, baru satu titik sumur bor yang selesai dibangun dan dapat dimanfaatkan sebagian warga di RW 11. Untuk wilayah lain, pemerintah desa masih mengupayakan pemanfaatan mata air dengan bantuan pompa mesin.

“Warga yang dipulangkan sudah memiliki pasokan air, meski sangat terbatas. Ke depan direncanakan ada 10 titik sumur bor. Untuk sementara, warga diminta menggunakan air secara hemat,” ujar Nur Awaludin.

Salah satu warga mengaku lega bisa kembali ke rumah, meski persoalan air belum sepenuhnya teratasi. “Rumah aman, enggak rusak. Cuma air bersih masih susah. Tadi dipulangkan diantar petugas sambil diberi bantuan sembako,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, pemerintah daerah menginisiasi pembangunan 13 titik sumur bor di kawasan terdampak longsor berdasarkan rekomendasi petugas di lapangan.

“Air bersih ini kebutuhan paling dasar. Saat warga kembali ke rumah, kendala utamanya memang di situ,” kata Jeje.

Ia menyebut, pembangunan sumur bor tersebut mendapat dukungan dari Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad, yang siap mengakomodasi pembiayaannya.

Jeje menambahkan, berdasarkan hasil kajian terbaru, sebanyak 56 rumah berada di zona kuning dan dinyatakan aman untuk kembali dihuni. Sementara itu, 80 rumah lainnya dipastikan akan direlokasi karena berada di zona berisiko tinggi.

“Rinciannya, 48 rumah rusak parah hingga hilang, dan 34 rumah berada di zona merah yang rawan longsor susulan,” jelasnya.

Diketahui, Raffi Ahmad sebelumnya telah menyalurkan bantuan sebesar Rp1 miliar. Bantuan tersebut kemudian ditambah Rp2 miliar yang dialokasikan untuk pengadaan sumur bor dan kebutuhan mendesak lainnya bagi penyintas longsor.

“Saya titipkan supaya langsung dipakai. Yang penting kebutuhan dasar warga, terutama air bersih, bisa segera terpenuhi,” kata Raffi saat meninjau Posko Pengungsian korban longsor Cisarua, Sabtu (31/1/2026).(*)

Pos terkait