SUKABUMI – Tim Planetarium Observatorium Jakarta dari Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melaksanakan pengamatan hilal di Pusat Observasi Bulan (POB) Cibeas, Kecamatan Simpenan. (17/2/2026). Observasi ini menjadi bagian dari agenda rutin tahunan dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Astrofotografer Planetarium Observatorium Jakarta, Muhammad Raihan, mengatakan bahwa rukyatul hilal telah dijadwalkan sejak awal tahun dan masuk dalam perencanaan anggaran resmi.
“Kami dari Planetarium Jakarta memang telah mengagendakan dan menganggarkan untuk pengamatan hilal tahun ini,” ujarnya.
Dalam satu tahun, Planetarium Jakarta melakukan lima kali observasi hilal yang berkaitan langsung dengan momentum penting umat Islam, yakni Ramadan, Syawal, Zulhijah, Muharram, dan Rabiul Awal.
Pilih Sukabumi karena Faktor Astronomis
POB Cibeas dipilih karena dinilai memiliki kondisi geografis yang lebih mendukung dibanding wilayah perkotaan. Lokasinya berada di ketinggian dan dekat garis pantai, sehingga cakrawala barat lebih terbuka. Selain itu, tingkat polusi udara relatif rendah.
Tim yang diterjunkan berjumlah tujuh orang dengan dukungan perangkat optik modern.
“Kami menggunakan teleskop dan juga kamera. Ada dua teleskop yang kami gunakan, dari Vixen ED80SF dan juga teleskop Explore Scientific 80 ED,” jelas Raihan.
Satu teleskop difungsikan untuk kebutuhan astrofotografi guna mendokumentasikan data hilal, sementara satu lainnya digunakan untuk siaran langsung. Proses pengamatan dapat disaksikan masyarakat melalui kanal YouTube Planetarium Observatorium Jakarta.
Antisipasi Jika Hilal Tidak Terlihat
Berdasarkan perhitungan hisab, ada kemungkinan hilal tidak dapat teramati pada hari pertama. Raihan menuturkan, jika hal itu terjadi dan diputuskan istikmal oleh Menteri Agama, maka awal bulan akan digenapkan menjadi 30 hari dan pengamatan dilanjutkan keesokan harinya.
Ia menegaskan bahwa tugas astrofotografer bukan sekadar memotret, tetapi juga memahami posisi astronomis benda langit serta menguasai pengoperasian teleskop secara presisi.
Dengan dukungan teknologi dan siaran langsung digital, pengamatan hilal tidak hanya menjadi bagian dari proses penetapan awal bulan Hijriah, tetapi juga sarana edukasi astronomi bagi masyarakat luas.














