BANDUNG – Pelayanan kesehatan yang komprehensif, humanis, dan bebas stigma menjadikan Puskesmas Garuda sebagai salah satu rujukan utama layanan HIV di Kota Bandung. Melalui sistem layanan terintegrasi dan kolaborasi lintas sektor, ratusan Orang Dengan HIV (ODHIV) mampu bertahan menjalani pengobatan secara rutin dan berkelanjutan.
Pengelola Program HIV Puskesmas Garuda, Dwi Juniarti Rasmedi, menjelaskan bahwa layanan HIV di Puskesmas Garuda dirancang secara menyeluruh. Tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga mencakup pencegahan serta dukungan psikososial bagi pasien.
“Layanan HIV di sini meliputi tes HIV, tes dan pengobatan Infeksi Menular Seksual (IMS), terapi antiretroviral (ARV), skrining TBC, skrining hepatitis B dan C, layanan harm reduction, PrEP untuk pencegahan HIV, serta rujukan layanan psikolog,” jelas Dwi di Puskesmas Garuda, Senin, 22 Desember 2025.
Ia menambahkan, skrining TBC dilakukan secara rutin setiap kali kunjungan pasien, sementara skrining hepatitis B dan C dilaksanakan minimal satu kali dalam setahun. Langkah ini penting mengingat ODHIV memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit infeksi oportunistik.
Hingga November 2025, tercatat sebanyak 177 ODHIV aktif menjalani terapi ARV secara rutin di Puskesmas Garuda. Mayoritas pasien berada pada rentang usia produktif, yakni 19 hingga 35 tahun.
“Ini menjadi perhatian serius karena mereka adalah generasi produktif. Kalau kesehatannya terjaga, mereka tetap bisa bekerja dan berkarya,” ujarnya.
Dwi juga memastikan ketersediaan obat ARV di Puskesmas Garuda saat ini dalam kondisi aman. Namun demikian, program pengambilan obat untuk jangka waktu tiga bulan sekaligus atau multi-month dispensing belum sepenuhnya dapat diterapkan karena keterbatasan stok.
Selain layanan medis, Puskesmas Garuda turut didukung pendampingan dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Salah satunya adalah LSM Srikandi Pasundan, yang berperan aktif dalam penjangkauan dan pendampingan ODHIV.
Pendamping lapangan LSM Srikandi Pasundan, Ian, menjelaskan bahwa peran LSM adalah menjangkau kelompok berisiko, mengajak tes HIV, serta memastikan pasien yang terdeteksi positif mau mengakses layanan kesehatan dan tidak putus pengobatan.
“Kami menjangkau di lapangan, lalu merujuk ke puskesmas. Kalau hasilnya positif, kami dampingi supaya tetap berobat dan patuh minum obat,” kata Ian.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam pendampingan adalah stigma, ketakutan mengetahui hasil tes, hingga kejenuhan pasien menjalani pengobatan jangka panjang. Bahkan, tidak sedikit pasien yang memilih berhenti minum obat dan beralih ke pengobatan alternatif.
“Kalau berhenti berobat risikonya besar. Ada yang akhirnya drop, bahkan meninggal. Itu yang selalu kami ingatkan,” ujarnya.
Ian juga mengungkapkan bahwa sebagian besar pasien yang berobat di Puskesmas Garuda justru berasal dari luar Kota Bandung, seperti Jakarta, Sukabumi, Subang, hingga Tangerang.
“Mereka merasa nyaman di sini. Ada yang rela datang jauh-jauh sebulan sekali karena merasa dilayani dengan baik,” katanya.
Kenyamanan layanan tersebut turut dibenarkan oleh salah seorang pasien ODHIV asal Bandung yang namanya disamarkan. Ia mengaku mulai menjalani pengobatan sejak 2022 setelah mengalami penurunan berat badan drastis dan kondisi fisik yang terus melemah.
“Berat badan saya turun jauh, tenaga drop. Dari situ saya langsung periksa dan akhirnya rutin berobat di sini,” tuturnya.
Ia mengungkapkan sempat memiliki pengalaman kurang menyenangkan saat mencoba mengakses layanan kesehatan di luar Bandung. Perlakuan yang bernuansa stigma membuatnya memilih kembali menjalani pengobatan di Puskesmas Garuda.
“Di luar kota saya sempat dimarahi dan dihakimi. Di sini beda, pelayanannya ramah, tidak menghakimi, malah dikasih arahan supaya tetap sehat,” katanya.
Berkat kepatuhan menjalani terapi ARV, kondisi kesehatannya kini stabil dan berat badan kembali ideal. Ia pun mengajak sesama ODHIV untuk tidak menyerah dan tetap disiplin minum obat.
“Minum obat itu kunci hidup. Jangan benci diri sendiri, berdamai dengan keadaan, dan tetap jaga kesehatan,” pesannya.
Dengan layanan yang ramah, kolaboratif, dan berkelanjutan, Puskesmas Garuda terus memperkuat perannya sebagai ruang aman bagi ODHIV di Kota Bandung, sekaligus menjadi contoh pelayanan kesehatan publik yang berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. (*)

















