Kampung Naga Tasikmalaya, Jejak Kearifan Lokal dalam Merawat Alam

TASIKMALAYADi sepanjang jalur utama Tasikmalaya–Garut, terdapat sebuah destinasi wisata budaya yang menawarkan pengalaman berbeda dari kebanyakan tempat wisata. Kampung Naga, sebuah perkampungan adat di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, mengajak pengunjung menyusuri jejak kearifan Sunda yang masih hidup dan terjaga hingga kini.

Berada di lembah hijau yang dikelilingi perbukitan dan aliran Sungai Ciwulan, Kampung Naga menghadirkan suasana tenang, alami, dan jauh dari hiruk pikuk modernitas. Setiap sudut kampung ini menyimpan filosofi hidup yang diwariskan secara turun-temurun.

Bacaan Lainnya

Untuk mencapai Kampung Naga, pengunjung harus menuruni sekitar 444 anak tangga dari jalan raya. Perjalanan ini justru menjadi bagian dari pengalaman wisata, di mana hamparan sawah, pepohonan, dan udara segar menyambut setiap langkah menuju kawasan kampung adat.

Nama “Naga” sendiri bukan merujuk pada makhluk mitologi, melainkan berasal dari istilah Sunda “Na Gawir”, yang berarti berada di lereng atau lembah. Letaknya yang tersembunyi menjadikan Kampung Naga terasa seperti ruang waktu yang membawa pengunjung kembali ke masa lalu.

Kampung Naga, Tasikmalaya. Foto: IG kampung naga

Rumah Adat Sunda yang Seragam dan Sarat Makna

Salah satu daya tarik utama wisata Kampung Naga adalah deretan rumah adat Sunda yang seragam dan tertata rapi. Seluruh bangunan menggunakan bahan alami seperti kayu dan anyaman bambu, dengan atap segitiga khas Cagak Gunting.

Rumah-rumah ini menghadap ke arah utara atau selatan dan dibangun tanpa tembok, kaca, maupun genteng. Keseragaman ini bukan tanpa alasan, melainkan wujud komitmen warga dalam menjaga keseimbangan sosial dan keharmonisan dengan alam.

Berkunjung ke Kampung Naga bukan sekadar melihat bangunan tradisional, tetapi juga belajar tentang cara hidup masyarakat Sunda yang menjunjung tinggi kesederhanaan dan kebersamaan.

Warga Kampung Naga hingga kini menolak penggunaan listrik PLN. Bagi mereka, kesederhanaan adalah kunci keharmonisan, sekaligus cara menjaga hubungan yang setara antarsesama. Di sinilah wisatawan diajak memahami bahwa kemajuan tidak selalu harus identik dengan teknologi.

Selain itu, terdapat kawasan Leuweung Larangan, hutan adat yang dijaga ketat dan tidak boleh dimasuki sembarangan. Kawasan ini menjadi contoh nyata kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam dan sumber mata air.

Ruang Sakral dan Tradisi Adat

Beberapa bangunan di Kampung Naga memiliki nilai sakral dan menjadi bagian penting dari kehidupan adat, di antaranya Masjid, Bumi Ageung, dan Bale Patemon. Tempat-tempat ini tidak hanya berfungsi secara fisik, tetapi juga menjadi pusat spiritual dan kebudayaan warga.

Salah satu atraksi budaya yang paling dinantikan adalah Hajat Sasih, sebuah upacara adat yang digelar secara berkala. Ritual ini menjadi momen kebersamaan warga sekaligus daya tarik wisata budaya yang sarat makna spiritual.

Tips Wisata ke Kampung Naga

Agar pengalaman berkunjung semakin berkesan, wisatawan disarankan untuk:

  • Menjaga sopan santun dan etika selama berada di kawasan adat

  • Menghormati area terlarang dan aturan yang berlaku

  • Meminta izin sebelum mengambil foto, terutama di area sakral

  • Menggunakan jasa pemandu lokal untuk memahami sejarah dan filosofi kampung

Destinasi Wisata Budaya yang Mengedukasi

Kampung Naga bukan hanya tempat untuk berfoto, melainkan wisata edukasi kearifan Sunda yang mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam dan tradisi. Di tengah arus modernisasi, Kampung Naga tetap berdiri sebagai pengingat bahwa nilai-nilai leluhur adalah kekayaan yang tak ternilai.

Bagi wisatawan yang mencari pengalaman wisata budaya yang autentik, tenang, dan penuh makna, Kampung Naga Tasikmalaya adalah destinasi yang wajib dikunjungi. (LS)

Pos terkait