KAB. BANDUNG – Tekanan terhadap lahan kritis di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung, kian mengkhawatirkan. Di sejumlah wilayah seperti Citapen dan Pasanggrahan, lahan dataran tinggi terus dieksploitasi untuk pertanian intensif dan pembangunan, meski daya dukung tanah dinilai terbatas.
Pantauan di Citapen menunjukkan bentang alam perbukitan yang semakin kehilangan vegetasi penyangga. Banyak lahan dibiarkan terbuka tanpa pohon keras dan hanya ditanami tanaman semusim. Kondisi ini membuat struktur tanah rapuh dan rawan terdampak cuaca ekstrem, terutama saat musim hujan.
Warga Citapen, Nana (73), menyebut mayoritas lahan di Cimenyan bukan milik warga setempat. Masyarakat lokal umumnya hanya berstatus sebagai penggarap.
“Yang punya lahan di Cimenyan kebanyakan orang luar. Warga sini paling cuma jadi petani, tanahnya punya orang lain. Lahan pribadi paling sebatas rumah,” ujarnya.
Menurut Nana, hampir seluruh lahan dimanfaatkan tanpa jeda pemulihan tanah. Tanaman yang dibudidayakan didominasi komoditas semusim seperti pisang, bawang, kentang, dan singkong.
Selain pertanian, alih fungsi lahan juga marak terjadi. Lahan kritis mulai berubah menjadi bangunan non-pertanian, mulai dari vila hingga warung dan kantin.
“Lahan kritis banyak, tapi tetap dibangun. Enggak ada pertimbangan dulu,” tambahnyanya.
Meski belum pernah terjadi longsor besar, Nana mengingatkan potensi bencana tetap mengintai. Ia mencatat, dua tahun lalu wilayah tersebut sempat diterjang angin puting beliung.
Ironisnya, hingga kini belum ada himbauan atau kebijakan khusus dari pemerintah desa terkait pengelolaan lahan kritis. Langkah penanganan baru dilakukan setelah kejadian terjadi.
“Kalau sudah kejadian baru pada datang,” ujar Nana.
Ia membandingkan kondisi saat dirinya menjabat sebagai ketua RW. Kala itu, pemanfaatan lahan masih dibatasi dan penghijauan menjadi syarat utama.
“Dulu kalau enggak layak ditanami, ya dihijaukan dulu. Sekarang semua dipakai,” ucapnya.
Perubahan orientasi ekonomi dinilai mempercepat kerusakan lahan. Pemilik lahan cenderung mengejar hasil cepat ketimbang menanam pohon keras yang berfungsi menjaga struktur tanah.
Nana mengakui pemerintah sempat menyalurkan bibit pohon seperti durian, alpukat, dan lengkeng. Namun, setelah masa panen, lahan kembali gundul.
Kondisi serupa terjadi di Pasanggrahan. Seorang warga menyebut kepemilikan lahan di wilayah tersebut didominasi pihak swasta. Lahan digunakan untuk pertanian kentang yang hasilnya dikirim ke perusahaan pengolah makanan ringan.
“Yang punya lahan bukan warga sini, tapi swasta,” katanya.
Ia menambahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat melakukan kajian dan menemukan kondisi tanah yang mengkhawatirkan.
“Akar-akar tanahnya sudah enggak ada, jadi enggak kuat,” ujarnya.
Meski longsor belum pernah terjadi, potensi amblesan tanah tetap menjadi ancaman laten di kawasan dataran tinggi Cimenyan.(*)














