KAB. BANDUNG BARAT – Badan Geologi menegaskan bahwa longsor besar di lereng kaki Gunung Burangrang, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), tidak bisa disederhanakan sebagai akibat alih fungsi lahan menjadi pertanian hortikultura.
Peristiwa longsor yang menimbun 48 rumah warga dan berdampak pada 158 jiwa, baik korban selamat maupun meninggal, disebut dipicu oleh kombinasi faktor geologi, kemiringan lereng ekstrem, dan curah hujan tinggi berkepanjangan.
Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Edy Slameto, menyampaikan bahwa kawasan tersebut secara geologi tersusun oleh batuan vulkanik yang telah mengalami pelapukan intensif.
“Material yang longsor bukan batuan utuh, melainkan hasil pelapukan yang sudah sangat lemah dan mudah bergerak,” ujar Edy di Posko Pengungsian Desa Psirlangu, Kamis (29/1/2026).
Menurutnya, kondisi ini menjadikan lereng sangat rentan, terutama saat dipicu hujan deras yang terjadi secara terus-menerus dalam beberapa waktu terakhir.
Selain faktor geologi, kemiringan lereng di lokasi longsor tergolong sangat curam, sehingga memperbesar potensi pergerakan tanah dalam skala besar.
“Kemiringan lereng ekstrem. Setelah longsor terjadi, morfologi wilayah pasti berubah dan ini meningkatkan risiko lanjutan,” kata Edy.
Perubahan bentuk lereng akibat longsoran tersebut, lanjut Edy, mengharuskan dilakukan pemetaan ulang guna mengetahui kondisi terbaru lapangan, termasuk sebaran material longsoran dan potensi bahaya susulan.
“Pemetaan ulang penting untuk memastikan posisi lereng dan endapan material vulkanik yang terbawa longsor,” jelasnya.
Edy juga menyoroti peran curah hujan tinggi sebagai faktor dinamis yang tidak dapat dikendalikan, namun sangat menentukan kestabilan lereng di kawasan rawan bencana.
“Geologi, kemiringan lereng, dan hujan adalah satu kesatuan. Tidak berdiri sendiri, tetapi saling memperkuat risiko longsor,” tegasnya.
Terkait dugaan alih fungsi lahan sebagai pemicu, Badan Geologi belum dapat menarik kesimpulan tanpa kajian ilmiah yang mendalam.
“Alih fungsi lahan bisa saja berpengaruh, tetapi tidak bisa langsung disimpulkan. Tidak ada bencana yang terjadi hanya karena satu faktor,” ujarnya.
Hasil pemetaan awal menunjukkan longsor memiliki panjang sekitar 2,5 kilometer, dengan lebar mengikuti alur sungai di bagian bawah lereng. Volume material longsoran diperkirakan mencapai 500 ribu hingga 1 juta meter kubik.
Material longsor bergerak mengikuti jalur sungai yang berada di kaki lereng, sehingga memperluas dampak kerusakan.
“Pola longsor mengikuti aliran sungai karena di bagian bawah terdapat sungai aktif,” kata Edy.
Untuk mengantisipasi risiko lanjutan, tim Badan Geologi akan melakukan pemantauan harian di lokasi dan mengumpulkan data lapangan secara intensif.
Kajian tersebut akan menjadi dasar penyusunan rekomendasi teknis, termasuk opsi relokasi warga serta langkah mitigasi lanjutan.
“Kami ingin memastikan rekomendasi segera keluar agar tidak ada korban tambahan jika terjadi pergerakan susulan,” pungkas Edy.(*)














