Pemkab Bandung Barat Gelontorkan Rp7,3 Miliar untuk Tanggap Darurat Longsor Pasirlangu

KAB. BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat mengalokasikan Rp7,3 miliar dari Belanja Tidak Terduga (BTT) APBD 2026 untuk penanganan bencana longsor di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua.

Anggaran tersebut digelontorkan setelah status darurat bencana resmi ditetapkan menyusul longsor terbesar yang pernah terjadi di wilayah Bandung Barat, dengan dampak korban jiwa dan kerusakan yang masif.

Bacaan Lainnya

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail menetapkan status darurat bencana selama 14 hari, terhitung sejak hari kejadian, guna mempercepat mobilisasi sumber daya dan penggunaan anggaran darurat.

“Status darurat sudah ditetapkan selama 14 hari. Anggaran Rp7,3 miliar dari BTT kami siapkan untuk mendukung seluruh kebutuhan penanganan,” kata Incident Commander (IC) Bencana Longsor Pasirlangu, Ade Zakir, Kamis (29/1/2026).

Ade menjelaskan, dana BTT tersebut difokuskan pada tiga klaster utama, yakni layanan kesehatan melalui Dinas Kesehatan, layanan sosial dan pengungsian melalui Dinas Sosial, serta penanganan kebencanaan melalui BPBD.

Penggunaan anggaran mencakup penanganan korban luka, proses identifikasi jenazah (DVI), operasional alat berat, logistik dapur umum, hingga kebutuhan pendukung operasi SAR di lapangan.

“Seluruh kebutuhan mendesak selama masa tanggap darurat menjadi prioritas. Mulai dari pengobatan, DVI, alat berat, sampai konsumsi dan operasional pengungsian,” jelasnya.

Pemkab Bandung Barat menegaskan bahwa penggunaan anggaran darurat dan status tanggap darurat akan dievaluasi setelah 14 hari, sebagai dasar penentuan apakah masa darurat perlu diperpanjang atau masuk ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

Pada fase tanggap darurat ini, fokus utama pemerintah daerah dan tim gabungan masih pada pencarian korban hilang serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.

Berdasarkan data sementara, longsor di Kampung Pasir Kuning menyebabkan 48 rumah hancur dan 158 jiwa terdampak langsung. Dari jumlah tersebut, 78 orang dinyatakan selamat, sementara 80 orang dilaporkan hilang.

Hingga hari ke-6 operasi Search and Rescue (SAR), tim gabungan telah mengevakuasi 53 kantong jenazah (body pack) dari lokasi longsor.

“Masih ada sekitar 27 korban yang dinyatakan hilang dan terus dilakukan pencarian,” kata Ade.

Dari total jenazah yang ditemukan, 37 korban telah teridentifikasi, sementara 16 jenazah lainnya masih dalam proses identifikasi oleh tim DVI.

Ade juga mengungkapkan bahwa proses pendataan kerusakan dan kebutuhan relokasi masih menunggu kepastian zonasi kawasan dari Badan Geologi.

“Data rumah terdampak masih kami hitung. Ada kemungkinan rumah tidak rusak, tetapi masuk zona merah dan harus direlokasi. Kami menunggu hasil kajian Badan Geologi,” ujarnya.

Selain korban langsung, longsor juga memaksa 564 jiwa dari 164 kepala keluarga (KK) mengungsi. Para pengungsi ditempatkan di dua lokasi, yakni Aula Desa Pasirlangu sebanyak 306 jiwa dan GOR Desa Pasirlangu sebanyak 258 jiwa.

“Total rumah rusak berat sebanyak 48 unit yang tersebar di RW 07, RW 10, dan RW 11,” pungkas Ade.(*)

Pos terkait