KAB. BANDUNG BATAT – Longsor besar yang melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), bukan hanya memutus akses dan mengganggu aktivitas warga. Lebih jauh, bencana ini menghantam jantung ekonomi desa: sektor pertanian, khususnya petani paprika di lereng Gunung Burangrang yang selama ini menjadi penopang pasokan nasional.
Terputusnya jalur air bersih akibat timbunan material longsor membuat ribuan tanaman paprika terancam mati. Salah satu petani terdampak, Cucu, kini hanya bisa menyaksikan kebunnya perlahan sekarat tanpa mampu berbuat banyak.
“Sekitar 2.000 pohon paprika saya terancam gagal panen. Kalau dihitung, kerugiannya bisa sampai Rp30 juta. Jalur air tertutup longsor, jadi sama sekali tidak ada pasokan air bersih,” ujar Cucu, Rabu (4/2/2025).
Paprika merupakan komoditas hortikultura yang sangat bergantung pada suplai air harian. Tanpa penyiraman rutin, suhu tanaman meningkat, kelembapan turun, dan risiko serangan penyakit melonjak drastis. Dalam hitungan hari saja, kualitas dan kuantitas hasil panen bisa anjlok.
Ironisnya, di tengah ancaman gagal panen, Cucu memilih mengalah. Ia enggan mengambil jatah air terbatas yang kini diperebutkan warga untuk kebutuhan dasar seperti minum dan mandi.
“Warga butuh air buat hidup sehari-hari. Masa saya pakai buat nyiram paprika? Nggak tega,” katanya lirih.
Keputusan itu mencerminkan dilema petani kecil di tengah krisis: memilih bertahan secara ekonomi atau menjaga solidaritas sosial. Namun pilihan mengalah ini harus dibayar mahal. Tanaman di lahan seluas sekitar 562,5 meter persegi mulai layu, buah gagal berkembang, dan potensi panen nyaris sirna.
Padahal, dalam kondisi normal, paprika dari lereng Burangrang dipasok ke berbagai daerah, mulai dari Bandung Raya, luar kota, hingga lintas pulau seperti Padang, Surabaya, bahkan Bali.
“Biasanya ke mana-mana. Sekarang ya tinggal nunggu nasib,” tandas Cucu.
Desa Pasirlangu sendiri dikenal sebagai salah satu sentra paprika nasional. Lereng Gunung Burangrang yang subur menjadikan wilayah ini ladang ideal bagi berbagai komoditas hortikultura seperti kol, brokoli, selada, dan terutama paprika.
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyebut sekitar 90 persen dari lebih 11 ribu penduduknya menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Dari total luas wilayah desa sekitar 1.000 hektare, hampir 25 persen merupakan lahan paprika.
“Pasirlangu ini pemasok paprika nasional. Dalam kondisi normal, pengiriman ke luar daerah bisa mencapai 5 ton per hari,” ungkap Nur.
Namun longsor yang menyapu sekitar 30 hektare lahan pertanian menunjukkan betapa rapuhnya sistem penopang pertanian di kawasan rawan bencana. Meski secara persentase hanya sekitar 0,2 persen dari total wilayah, dampaknya menjalar luas: pasokan pangan terganggu, pendapatan petani anjlok, dan rantai distribusi tersendat.
Bencana ini menjadi alarm keras bahwa mitigasi longsor, perlindungan sumber air, dan penanganan pascabencana bagi petani belum menjadi prioritas serius. Tanpa intervensi cepat dan konkret, petani seperti Cucu bukan hanya kehilangan panen—tetapi juga masa depan.














