
SUKABUMI – Kenaikan harga BBM non-subsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green yang resmi berlaku sejak Rabu, 10 Juni 2026, mulai berdampak pada pola konsumsi masyarakat. Di sejumlah SPBU wilayah Surade, Kabupaten Sukabumi, antrean kendaraan untuk pengisian Pertalite terlihat meningkat dibanding hari biasanya.
Salah seorang pengendara, Saleh (42), mengaku terpaksa beralih menggunakan Pertalite setelah harga Pertamax mengalami kenaikan cukup drastis.
“Biasanya saya selalu pakai Pertamax, tapi sekarang harganya naik jauh. Jadi sementara pindah dulu ke Pertalite supaya lebih hemat,” ujarnya saat ditemui di salah satu SPBU di Kecamatan Surade, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: OSN di Sukabumi Terganggu Pemadaman Listik, Ujian Susulan Diusulkan
Menurut Saleh, lonjakan harga membuat pengeluaran bahan bakar hariannya bertambah, terlebih dirinya menggunakan kendaraan untuk aktivitas kerja setiap hari.
Keluhan serupa disampaikan Yopi (33). Ia mengaku kenaikan harga Pertamax sangat terasa bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi.
“Dulu isi Pertamax Rp50 ribu bisa full tank, sekarang mah cuma dapat sedikit. Jadi kerasa banget bedanya,” katanya.
Baca Juga: Usai Panen Padi, Petani di Surade Beralih Tanam Palawija
Pantauan di lapangan, antrean kendaraan roda dua maupun roda empat di jalur pengisian Pertalite tampak lebih ramai dibandingkan jalur BBM non-subsidi. Sebagian warga memilih beralih ke BBM subsidi demi menekan pengeluaran harian.
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Meski demikian, harga BBM subsidi masih tetap, yakni Pertalite Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
The post Dampak Kenaikan BBM, Pengguna Pertamax di Surade Beralih ke Pertalite first appeared on Sukabumi Ku.

















