Jakarta – Di tengah target ambisius Presiden Prabowo Subianto untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen pada 2029, dua tokoh dari ekosistem pariwisata dan kuliner Indonesia, Reggy Adriansjah Kartawidjaja dan Wisnu Aji Nugroho, menawarkan gagasan kolaboratif yang menghubungkan peluang besar dari Saudi Vision 2030 dengan kebutuhan strategis Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
Keduanya menilai penguatan sumber daya manusia melalui pengiriman tenaga kerja terampil serta percepatan ekspor produk makanan siap saji dan bumbu siap masak (Ready to Eat/RTE) dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka pasar baru bagi Indonesia.
Peluang 500 Ribu PMI di Arab Saudi
Reggy Adriansjah Kartawidjaja, Wakil Ketua Bidang 3 dan Kepala Divisi Ekosistem Haji Umrah IKA NHI sekaligus pengurus Indonesia Tour Leader Association (ITLA), menyoroti transformasi besar yang tengah berlangsung di Arab Saudi melalui program Saudi Vision 2030.
Memasuki fase akhir implementasi pada periode 2026–2030, Arab Saudi menargetkan kunjungan wisatawan mencapai 150 juta orang per tahun pada akhir dekade. Pada 2025, negara tersebut telah mencatat sekitar 123 juta kunjungan wisatawan, melampaui target awal 100 juta kunjungan. Sektor pariwisata juga terus menunjukkan pertumbuhan signifikan dengan nilai belanja mencapai sekitar SR300 miliar atau setara US$81,1 miliar.
Menurut Reggy, perkembangan tersebut membuka peluang besar bagi tenaga kerja Indonesia, khususnya tour leader dan pekerja sektor pariwisata.
“Pertumbuhan pariwisata Saudi membuka peluang besar bagi Tour Leader Indonesia. Di bawah Saudi Vision 2030, kita harus mendorong mereka agar mampu mengisi peran di destinasi-destinasi baru,” ujar Reggy.
Peluang tersebut semakin terbuka setelah Presiden Prabowo Subianto menyetujui pencabutan moratorium pengiriman Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Arab Saudi yang berlaku sejak 2015. Berdasarkan kesepakatan bilateral kedua negara, tersedia sekitar 500.000 job order bagi tenaga kerja Indonesia, terdiri atas sekitar 300.000 pekerjaan sektor domestik dan 200.000–250.000 pekerjaan sektor formal.
Potensi devisa remitansi yang dapat dihasilkan dari penempatan PMI tersebut diperkirakan mencapai Rp31 triliun.
Reggy juga mengungkapkan bahwa setiap PMI yang menyelesaikan kontrak kerja selama dua tahun berpeluang memperoleh fasilitas umrah sebagai bentuk apresiasi dari Pemerintah Arab Saudi. Karena itu, ia menilai audiensi antara Indonesia Tour Leader Association dengan Kementerian Pariwisata, khususnya Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, menjadi langkah penting untuk mempercepat sertifikasi, pelatihan, dan penempatan tour leader Indonesia dalam ekosistem pariwisata Saudi yang terus berkembang.
Ekspor RTE dan Bumbu Indonesia Diproyeksikan Tembus Rp250 Miliar
Sementara itu, Wisnu Aji Nugroho, Ketua IKA NHI Bidang Luar Negeri sekaligus mantan Restaurant General Manager McDonald’s Indonesia, menyoroti potensi ekspor produk kuliner Indonesia ke Arab Saudi yang terus meningkat.
Untuk musim haji 2026, Indonesia akan mengekspor lebih dari 450 ton bumbu pasta khas Indonesia dengan 22 varian rasa. Nilai perputaran ekonomi dari ekspor bumbu tersebut diperkirakan mencapai Rp63,36 miliar.
Selain itu, Indonesia juga akan memasok sekitar 3,08 juta paket makanan siap santap (Ready to Eat/RTE) yang diproduksi oleh 10 perusahaan pemasok nasional dengan melibatkan berbagai UMKM. Secara keseluruhan, nilai ekspor makanan dan bumbu Indonesia ke Arab Saudi diperkirakan mencapai sekitar Rp250 miliar.
Menurut Wisnu, keberhasilan ekspor RTE tersebut dapat menjadi model untuk mendukung pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), khususnya di wilayah 3T seperti Kepulauan Mentawai dan Kabupaten Kepulauan Aru yang memiliki potensi pangan lokal melimpah namun menghadapi kendala logistik dan keterbatasan infrastruktur.
“Bumbu RTE mampu menekan biaya produksi hingga 50 hingga 70 persen dan mengatasi hambatan logistik,” kata Wisnu.
Ia menjelaskan, pengalaman para alumni NHI dalam mengelola katering haji dan kapal pesiar internasional dapat menjadi modal penting untuk mengembangkan produk bumbu RTE yang memiliki daya simpan hingga enam bulan. Teknologi tersebut dinilai relevan untuk memastikan distribusi makanan bergizi tetap berjalan efektif di daerah yang sulit dijangkau.
Meski demikian, Wisnu mengingatkan masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi, antara lain peningkatan kapasitas produksi UMKM, fluktuasi harga rempah-rempah, serta pemenuhan standar regulasi ekspor yang semakin ketat.
Jawa Barat Diusulkan Jadi Proyek Percontohan
Sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2029, Reggy dan Wisnu berharap Kementerian Pariwisata dapat segera menyusun program pelatihan lintas sektor yang mengintegrasikan pengembangan SDM pariwisata dengan penguatan industri kuliner nasional.
Keduanya mengusulkan Jawa Barat sebagai wilayah percontohan pengembangan ekosistem bumbu RTE sekaligus pusat pelatihan tour leader bersertifikasi internasional.
Menurut mereka, sinergi antara penempatan 500.000 PMI terampil di Arab Saudi, ekspor produk RTE senilai Rp250 miliar, dan optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis di wilayah 3T dapat menjadi kontribusi nyata bagi peningkatan ekspor nasional, penciptaan lapangan kerja, serta percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju target 8 persen pada 2029. (dh)

















