BANDUNG – Proses seleksi Direktur Perumda Tirtawening Kota Bandung memasuki tahap akhir. Lima kandidat kini menunggu keputusan Wali Kota Bandung, Muhamad Farhan, yang akan menentukan pimpinan baru perusahaan daerah penyedia layanan air bersih tersebut.
Kelima kandidat yang lolos hingga tahap penetapan adalah Arsylia Yustisia, Hendro Sugiarto, Deddy Gamawan, Rizky Mediantoro, dan Yoga Sutresna.
Menjelang penetapan direksi, Jaringan Survei Independen (JSI) merilis hasil survei partisipasi publik terkait kinerja dan harapan masyarakat terhadap Perumda Tirtawening Kota Bandung. Survei dilakukan pada 10–18 Juni 2026 terhadap 300 responden ber-KTP Kota Bandung.
Direktur JSI, Harry Khoirul Anwar, mengatakan survei tersebut bertujuan mengukur persepsi masyarakat terhadap pelayanan Perumda Tirtawening sekaligus menjaring aspirasi publik menjelang penentuan direksi baru.
“Survei ini dirancang untuk melihat bagaimana masyarakat menilai layanan yang berjalan saat ini dan seperti apa figur direksi yang mereka harapkan ke depan,” kata Harry dalam keterangan tertulis, Kamis (18/6).
Hasil survei menunjukkan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja operasional Perumda Tirtawening masih menjadi pekerjaan rumah. Sebanyak 41,7 persen responden menyatakan kurang puas terhadap layanan yang diberikan. Angka tersebut menjadi porsi terbesar dibandingkan kategori penilaian lainnya.
Meski demikian, perubahan nomenklatur dari PDAM menjadi Perumda Tirtawening dinilai telah tersosialisasikan dengan baik. Seluruh responden mengaku mengetahui perubahan nama perusahaan daerah tersebut.
Keluhan utama masyarakat masih berkaitan dengan distribusi air bersih. Hanya 33,3 persen responden yang mengaku menerima pasokan air selama 24 jam penuh setiap hari. Selebihnya mengalami keterbatasan jam aliran air, bahkan sebagian hanya mendapatkan pasokan kurang dari enam jam per hari.
Survei juga menemukan persoalan pada layanan pengaduan berbasis digital. Sebanyak 50 persen responden menyatakan kurang puas terhadap kanal pengaduan melalui aplikasi, media sosial, maupun WhatsApp. Selain itu, 41,7 persen responden menilai respons petugas lapangan belum menunjukkan kecepatan yang diharapkan.
Di sisi lain, tingkat literasi pelanggan terhadap tarif air masih tergolong rendah. Sebanyak 60 persen responden mengaku tidak mengetahui tarif resmi yang berlaku. Mayoritas pelanggan rumah tangga tercatat membayar tagihan air sekitar Rp 200 ribu per bulan.
Terkait agenda prioritas direksi baru, sebanyak 33,3 persen responden meminta perluasan jaringan pipa menjadi program utama dalam 100 hari pertama kepemimpinan. Sementara 25 persen responden berharap manajemen baru segera menyelesaikan persoalan air mati dan kebocoran pipa di wilayah yang selama ini mengalami keterbatasan pasokan.
Harapan masyarakat terhadap figur pemimpin perusahaan juga terlihat cukup kuat. Sebanyak 58,3 persen responden menginginkan direksi yang tegas, bersih, berintegritas, dan berani memberantas praktik pungutan liar maupun mafia internal. Sebagian responden juga berharap direksi baru bekerja secara profesional, berorientasi bisnis, dan terbebas dari intervensi politik.
Dalam simulasi pengenalan kandidat direksi, JSI menemukan perubahan preferensi yang cukup signifikan setelah responden mendapatkan informasi mengenai latar belakang dan rekam jejak para calon.
Pada simulasi awal tanpa penjelasan profil kandidat, Arsylia Yustisia memperoleh dukungan 43,3 persen. Hendro Sugiarto, Deddy Gamawan, dan Rizky Mediantoro masing-masing memperoleh dukungan 16,7 persen, sedangkan Yoga Sutresna mendapat 6,7 persen.
Namun setelah profil kandidat dijelaskan, dukungan terhadap Arsylia Yustisia meningkat menjadi 68,3 persen. Yoga Sutresna memperoleh 11,7 persen dukungan, Hendro Sugiarto dan Rizky Mediantoro masing-masing 8,3 persen, sementara Deddy Gamawan memperoleh 3,3 persen.
Menurut Harry, perubahan preferensi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat cenderung mempertimbangkan kompetensi dan pengalaman teknis dibandingkan sekadar tingkat keterkenalan kandidat.
“Publik cenderung memilih figur yang memiliki pengalaman langsung dalam pengelolaan air minum dan pelayanan air bersih. Faktor kompetensi teknis menjadi pertimbangan utama,” ujarnya.
JSI berharap hasil survei tersebut dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi panitia seleksi dan Pemerintah Kota Bandung dalam menentukan direksi baru Perumda Tirtawening.
Menurut Harry, legitimasi publik, integritas, dan kemampuan teknis merupakan kombinasi yang paling diharapkan masyarakat untuk memperbaiki kualitas layanan air bersih di Kota Bandung. *

















