SUKABUMI – Di balik popularitas akun TikTok Umi Ayoy yang kini diikuti puluhan ribu orang, tersimpan perjalanan hidup yang penuh lika-liku. Sebelum dikenal sebagai kreator konten, pria bernama lengkap Muhamad Nana Abdilah itu pernah berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain demi bertahan hidup.
Pria kelahiran Kampung Ciputat, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, 14 April 2001 itu mengaku tak pernah membayangkan dunia media sosial akan menjadi titik balik kehidupannya. Kesuksesan yang diraihnya saat ini lahir dari pengalaman panjang, kerja keras, dan berbagai kegagalan yang pernah ia alami.
Umi Ayoy mengawali pendidikan di MA Assobariyah sebelum melanjutkan sekolah di SMA Baiturrahman. Semasa sekolah, ia dikenal aktif mengikuti berbagai perlombaan. Bahkan ketika masih duduk di bangku SMP, ia pernah meraih Juara I Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Kabupaten Sukabumi dan mewakili daerahnya hingga tingkat Provinsi Jawa Barat.
“Sejak kecil saya memang sering ikut lomba. Dulu juga sering diundang mengisi acara seperti hajatan, khitanan, sampai pernikahan,” ujarnya.
Selepas sekolah, kehidupan membawanya ke berbagai jenis pekerjaan. Hampir semua kesempatan yang datang dicobanya tanpa memilih jenis pekerjaan.
Ia pernah menjadi penjual, pembantu rumah tangga, pekerja pabrik paving block dan batako, karyawan rumah makan ayam geprek, pekerja kebun anggrek, hingga petugas pencucian mobil. Bahkan dalam masa-masa sulit, ia sempat mengamen di kawasan Sukasari, Bogor.
“Kalau dihitung mungkin ada sekitar 20 pekerjaan yang pernah saya jalani,” katanya.
Perjalanan hidupnya kemudian membawanya merantau ke Bali. Di Pulau Dewata, ia bekerja di sebuah bar. Namun harapan kembali diuji ketika mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah.

Baca Juga: PERSIB Sapu Bersih Grup A Piala Presiden 2026, Bungkam Tampines Rovers 1-0 dan Lolos ke Semifinal
Selama sekitar enam bulan, ia hanya bisa menjalani masa pemulihan di rumah. Kondisi tersebut sempat membuatnya kehilangan semangat karena tidak dapat beraktivitas seperti biasanya.
Meski begitu, ia memilih bangkit. Setelah kesehatannya mulai membaik, ia kembali bekerja di Bali hingga akhirnya memutuskan pulang ke Sukabumi pada April 2025.
Kepulangan itu menjadi awal perubahan besar dalam hidupnya. Ia mulai menekuni live streaming di TikTok secara serius dengan keyakinan bahwa media sosial bisa menjadi peluang baru.
“Hampir setiap hari saya fokus live. Awalnya belum ada hasil, tetapi saya tetap konsisten,” tuturnya.
Baca Juga: Lahirkan Generasi Qur’ani, MTQ Desa Cihideung Udik Buka Enam Cabang Lomba
Usaha tersebut mulai membuahkan hasil sekitar dua hingga tiga bulan kemudian. Pendapatannya terus meningkat hingga akhirnya pada Juli ia mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp17 juta dalam satu bulan, angka yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
“Baru waktu itu saya benar-benar merasakan penghasilan sebesar itu dalam sebulan,” ungkapnya.
Keberhasilan tersebut perlahan mengubah kondisi ekonominya. Ia sempat membeli mobil dari hasil kerja sebagai kreator konten, meski kemudian kendaraan itu dijual kembali karena alasan tertentu. Kini, selain aktif melakukan live streaming, Umi Ayoy juga mulai merintis usaha kuliner berupa tahu walik sebagai sumber penghasilan tambahan.
Di tengah kesibukannya sebagai kreator konten, Umi Ayoy juga mulai aktif berkontribusi di lingkungan tempat tinggalnya. Salah satu yang menjadi perhatiannya ialah pendidikan agama bagi anak-anak di Kampung Ciputat, Desa Sukamaju, Kecamatan Cikakak.
Berbekal hasil kerja yang diperolehnya, ia membangun sebuah majelis sederhana yang dimanfaatkan sebagai tempat anak-anak belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama. Menurutnya, keberhasilan yang diraih akan terasa lebih bermakna apabila dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar, terutama dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada generasi muda.
Baginya, pencapaian yang dirasakan saat ini bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk terus berkembang sekaligus memberi manfaat bagi orang lain. Melalui konten yang dibuat, usaha yang dirintis, hingga majelis yang dibangunnya untuk anak-anak di kampung, Umi Ayoy berharap kisah hidupnya dapat menginspirasi generasi muda agar tidak pernah menyerah pada keadaan.
“Jangan malu memulai dari bawah. Saya pernah bekerja di banyak tempat dan mengalami masa-masa sulit. Yang penting tetap berusaha, terus belajar, dan jangan berhenti mencari jalan,” pungkasnya.

















