BANDUNG — BMKG mencatat 97 kejadian gempa bumi mengguncang Jawa Barat sepanjang Januari 2026. Mayoritas gempa berkedalaman dangkal dan beberapa dirasakan warga di Bandung, Sumedang, hingga Bekasi.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa mayoritas gempa tergolong gempa dangkal, yakni dengan kedalaman kurang dari 60 kilometer. “Sepanjang Januari 2026, terdapat 97 kali gempa bumi yang terjadi di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya,” kata Teguh kepada media lokal.
Meski sebagian besar gempa tidak berasal dari aktivitas tektonik besar, BMKG mengamati rentang kedalaman hiposenter yang bervariasi dari 2 kilometer hingga lebih dari 300 kilometer, dengan magnitudo terbesar yang tercatat mencapai 3,8 SR dan yang terkecil sekitar 1,3 SR. Gempa-gempa ini tersebar di berbagai titik, baik di daratan maupun di laut selatan Jawa.
Beberapa guncangan bahkan dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah satunya adalah gempa yang terjadi pada 30 Januari 2026 pukul 05.13 WIB di wilayah barat Kabupaten Sumedang dengan kekuatan magnitudo 2,7 SR. Getaran gempa ini dirasakan di sejumlah kawasan, termasuk di Sukasari, Tanjungsari, Cileunyi, Cilengkrang, Cimenyan, Lembang, hingga Ujungberung, menurut data yang dirilis BMKG.
Selain itu, laporan terpisah dari BMKG menyebutkan gempa berkekuatan 2,7 SR juga mengguncang Kota Bandung dan sekitarnya pada Jumat pagi (30/1), dengan getaran yang sempat membuat warga terkejut dan keluar dari rumah mereka.
Wilayah lain di provinsi ini juga mencatat aktivitas kegempaan, misalnya Kabupaten Bekasi, di mana gempa berkekuatan magnitudo 2,7 SR terjadi pada 26 Januari 2026, dengan pusat gempa berada di darat pada kedalaman sekitar 7 kilometer. Gempa ini dirasakan hingga wilayah Cikarang dan Karawang.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap potensi gempa susulan, khususnya di daerah yang rawan tektonik. Masyarakat juga diimbau menjauhi bangunan yang menunjukkan keretakan atau kerusakan pasca-gempa demi keselamatan bersama.
Fenomena intensitas kegempaan yang tinggi ini memperlihatkan bahwa wilayah Jawa Barat — yang berada di jalur pertemuan lempeng bumi — tetap menunjukkan aktivitas seismik aktif, meskipun sebagian besar tidak mencapai kekuatan yang berpotensi menimbulkan kerusakan signifikan. (*)














