BANDUNG – ISBI Bandung kembali menghadirkan pertunjukan seni melalui pementasan teater kontemporer “Dekonstruksi Minimalis Kapai-Kapai”, Rabu 11 Februari 2026 pukul 19.30 WIB di Gedung Kesenian Sunan Ambu ISBI Bandung.
Pementasan ini digelar oleh UPA Ajang Gelar ISBI Bandung bekerja sama dengan sutradara Fathul A. Husein, serta menjadi bagian dari Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Dana Indonesiana 2025.
Tafsir Kontemporer atas Lakon Kapai-kapai
“Dekonstruksi Minimalis Kapai-Kapai” merupakan tafsir ulang atas lakon Kapai-kapai karya dramawan Indonesia Arifin C. Noer. Dalam penggarapannya, Fathul A. Husein menerapkan pendekatan dekonstruksi dan transformasi teks, yakni mengolah teks dramatik menjadi teks pertunjukan melalui strategi pemanggungan atau mise en scène.
“Lakon tidak ditempatkan sebagai narasi verbal semata, tetapi sebagai peristiwa artistik di atas panggung,” kata Fathul.
Lakon Kapai-kapai sendiri mengisahkan Abu, sosok marginal yang hidup dalam kemiskinan material dan moral. Tokoh ini terus berjuang mencari makna hidup dan kebahagiaan di tengah keterpinggiran.
Kisah Abu dan “Cermin Tipu Daya”
Cerita berpusat pada pencarian Abu terhadap “Cermin Tipu Daya”, sebuah cermin mitologis yang kerap diceritakan ibunya, Emak, melalui dongeng. Cermin tersebut diyakini mampu membawa kebahagiaan dan keselamatan bagi siapa pun yang menemukannya.
Keyakinan tersebut mendorong Abu melakukan perjalanan panjang menuju tempat yang disebut “Ujung Dunia”, bahkan mengajak istrinya, Iyem, dalam perjalanan yang dimaknai sebagai perjalanan spiritual. Dalam lakon, Abu justru menemukan “Cermin Tipu Daya” ketika ajalnya tiba.
Minim Dialog, Kuat Simbol dan Gerak
Dalam pementasan ini, dialog tidak menjadi unsur dominan. Beberapa bagian teks tetap digunakan, namun difungsikan untuk memperkuat simbolisme gerak, gestur tubuh, musikalitas minimalis, serta pendekatan surealisme imajinatif.
Tema tentang nasib kaum marginal dan kemiskinan diolah menjadi kekuatan dramatik yang menyoroti persoalan peniadaan jati diri dan kemanusiaan. Unsur tembang-tembang tradisional digunakan menyerupai mantra untuk membangun suasana getir kehidupan.
Unsur Tradisi dan Filsafat Timur
Pertunjukan ini juga menghadirkan intertekstualitas dengan filsafat Timur, salah satunya pemikiran Lao Tzu, yang diintegrasikan ke dalam struktur artistik pertunjukan.
Selain itu, karya ini meminjam idiom beberapa seni pertunjukan tradisional pesisir utara Jawa Barat, seperti teater Tarling, kesenian Sintren, serta Wayang Kulit, yang diolah dalam bahasa teater kontemporer.
Dipresentasikan di Forum Internasional
Sebelum dipentaskan di Bandung, proses eksplorasi dan latihan karya ini telah dipresentasikan dalam forum internasional. Tim produksi diundang dalam performance workshop di LASALLE College of the Arts, Singapura, pada 13–14 Oktober, serta di Fakulti Seni Kreatif Universiti Malaya (UM), Kuala Lumpur, pada 16–18 Oktober.
Dalam kegiatan tersebut, tim juga berkolaborasi dengan mahasiswa dari kedua institusi seni tersebut, yang hasilnya ditampilkan dalam rangkaian workshop.
Melalui pementasan “Dekonstruksi Minimalis Kapai-Kapai”, ISBI Bandung berupaya menghadirkan pembacaan baru atas karya klasik Arifin C. Noer melalui teater kontemporer yang memadukan eksplorasi artistik, simbolisme, serta unsur tradisi dan modernitas.(*)















