Konser Musik dan Pameran Lukisan “Nature: Suara dan Warna Alam” Tawarkan Ruang Jeda dari Dunia Digital

BANDUNG – Sanggar Seni Sinta Sari (SSSS) akan menggelar konser musik dan pameran lukisan bertajuk “Nature: Suara dan Warna Alam” di Bandung Creative Hub. Kegiatan seni multidisiplin ini menjadi ruang refleksi sekaligus edukasi bagi masyarakat di tengah meningkatnya ketergantungan terhadap dunia digital dan melemahnya interaksi sosial.

Menghadirkan kolaborasi antara seni musik dan seni rupa, acara ini menempatkan seni bukan sekadar hiburan, tetapi sebagai medium pengolahan rasa, kesadaran, dan relasi manusia dengan sesama serta alam. Musik akustik yang disajikan tanpa perantara layar, berpadu dengan karya lukisan yang menonjolkan tekstur dan proses manual, diharapkan mampu menghadirkan pengalaman perjumpaan yang lebih autentik.

Ketua Panitia sekaligus penggagas kegiatan, Fathimah Al Ma’shumah, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mendorong ruang-ruang positif yang inklusif bagi berbagai kalangan masyarakat. Peserta yang terlibat berasal dari beragam latar belakang usia dan profesi, baik seniman profesional maupun nonprofesional.

“Kami ingin memperkenalkan karya seni kepada siapa pun, tanpa batasan latar belakang. Ada berbagai usia dan profesi yang terlibat, sebagian besar justru bukan seniman profesional,” ujar Fathimah, Minggu (1/2/2026).

Ia menambahkan, kegiatan seni berbasis komunitas ini diharapkan dapat membangun relasi yang sehat serta menumbuhkan kepedulian terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Menurutnya, seni menjadi medium untuk saling mengenal dan memperkuat ikatan sosial.

Selain pengembangan keterampilan berkesenian, kegiatan ini juga memuat unsur kepedulian sosial melalui penggalangan donasi. “Tujuannya bukan hanya meningkatkan skill dan berkomunitas, tetapi juga berdonasi dan peduli pada isu-isu kemanusiaan,” katanya.

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah tingginya ketergantungan anak terhadap gawai. Fathimah menilai, pengenalan aktivitas positif berbasis komunitas dapat menjadi alternatif untuk mengurangi dominasi dunia digital dalam kehidupan anak-anak.

“Anak-anak perlu dikenalkan dengan kegiatan positif dan komunitas yang sehat. Dengan begitu, mereka memiliki ruang alternatif selain dunia digital,” jelasnya.

Ia juga menilai keterlibatan dalam kegiatan seni, termasuk dalam kepanitiaan acara, dapat menjadi sarana pembelajaran nilai kehidupan. “Dari situ anak-anak bisa memahami bahwa hidup tidak hanya sebatas dunia digital, tetapi penuh makna,” tambahnya.

Dalam kesehariannya, komunitas Sanggar Seni Sinta Sari rutin menggelar kegiatan pada akhir pekan, seperti workshop dua mingguan dan sesi melukis bersama. Ke depan, direncanakan pula workshop rutin minimal sebulan sekali bersama pelukis profesional.

Tema alam dipilih karena dinilai semakin terpinggirkan dalam kehidupan manusia modern. “Interaksi manusia dengan alam semakin berkurang, padahal alam tidak bisa dipisahkan dari manusia,” ujar Fathimah. Ia juga menyinggung meningkatnya bencana ekologis sebagai dampak dari perilaku manusia yang abai terhadap lingkungan.

Pameran lukisan “Nature: Suara dan Warna Alam” akan berlangsung pada 7–10 Februari, pukul 09.00–17.00 WIB, bertempat di Bandung Creative Hub lantai 1, Exhibition Room. Sementara konser musik digelar secara terbatas untuk undangan.

Kegiatan ini melibatkan beragam ekspresi musik, mulai dari piano, gitar, biola, band, saksofon, hingga paduan suara anak dan dewasa. Peserta berasal dari berbagai rentang usia, termasuk seniman tertua berusia 82 tahun.

“Intinya adalah membentuk manusia yang utuh, mampu berelasi dengan alam, dengan sesama, serta mengenal berbagai bentuk komunikasi melalui seni,” kata Fathimah.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, panitia juga mengadakan lelang lukisan secara daring melalui laman lelangsari.zone.id. Hasil lelang akan diarahkan untuk mendukung kepedulian terhadap bencana kemanusiaan dan ekologis.(*)

Pos terkait