Rakor Penanganan Banjir Bandung Raya Sepakati Penguatan Pentahelix dan Aksi Nyata Penanganan Sampah

Kabupaten Bandung — Upaya penanganan banjir dan persoalan sampah di wilayah Bandung Raya terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Pada Rabu (3/6/2026), Pemerintah Kabupaten Bandung bersama berbagai unsur pemerintah, TNI, Polri, dan komunitas lingkungan menggelar rapat koordinasi (rakor) penanganan banjir Kota Bandung dan Kabupaten Bandung di Aula Makodim 0624 Kabupaten Bandung, Jalan Soreang–Cipatik, Desa Jatisari, Kecamatan Kutawaringin.

Rakor yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 14.00 WIB tersebut dipimpin oleh Dandim 0624 Kabupaten Bandung, Letkol Kav Samto Betah, serta dihadiri sekitar 100 peserta dari unsur Kodim 0624 Kabupaten Bandung, Kodim Kota Bandung, Forkopimda, BPBD, DPUTR, Dinas Lingkungan Hidup, BBWS Citarum, Satgas Citarum Harum, akademisi, pelaku usaha, hingga komunitas pemerhati lingkungan.

Bacaan Lainnya

Sejumlah tokoh turut hadir di antaranya Bupati Bandung Dadang Supriatna, Anggota DPR RI Komisi IX Asep Romy Romaya, Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto, Wakapolresta Bandung AKBP Putu Hendra Binangkari, serta para kepala OPD terkait.

Dalam sambutannya, Dandim 0624 Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah menegaskan pentingnya memahami akar persoalan banjir yang selama ini terjadi di Kabupaten Bandung maupun Kota Bandung.

“Melalui rakor ini kita ingin memahami akar masalah secara menyeluruh agar lahir solusi nyata dalam penanganan banjir maupun persoalan sampah,” ujarnya.

Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan bahwa persoalan sedimentasi sungai menjadi salah satu faktor utama penyebab banjir yang hingga kini masih menjadi tantangan bersama.

Menurutnya, saat program normalisasi sungai dilakukan pada tahun 2020, dampaknya cukup dirasakan masyarakat. Namun seiring waktu, persoalan sedimentasi kembali muncul dan memerlukan penanganan berkelanjutan.

“Kami sudah membangun pola kolaborasi pentahelix, tetapi karena keterbatasan APBD, diperlukan dukungan semua pihak untuk menyelesaikan persoalan banjir dan sampah,” kata Dadang.

Sementara itu, Dansatgas Citarum Harum Kolonel Inf Yanto Kusno Hendarto mengungkapkan sejumlah persoalan yang menjadi perhatian Satgas Citarum Harum, mulai dari limbah industri, sedimentasi sungai, persoalan sampah, keramba jaring apung, lahan kritis, limbah peternakan, hingga limbah domestik.

Ia menjelaskan, penumpukan sampah yang masuk ke aliran sungai masih menjadi masalah serius yang memicu penyumbatan dan memperparah banjir di sejumlah wilayah.

Selain itu, sedimentasi yang terjadi di Sungai Citarum menyebabkan pendangkalan di berbagai titik, sementara dukungan sarana seperti alat berat dan kendaraan pengangkut sedimentasi masih terbatas.

Di sisi lain, BBWS Citarum melalui perwakilannya, Windy, menyampaikan rencana pengerukan sejumlah sungai di wilayah Bandung Raya, di antaranya Sungai Citepus, Cipamokolan, Cisangkuy, dan Cikapundung sebagai langkah penanganan jangka pendek.

Dalam sesi diskusi, Kepala Dinas PUTR Kabupaten Bandung Zeis Zultaqwa memaparkan beberapa penyebab banjir yang terjadi di Kabupaten Bandung, seperti sedimentasi, tanggul jebol, penyempitan badan sungai, serta banyaknya jembatan yang melintang.

Ia menyebut beberapa titik rawan banjir di Kabupaten Bandung meliputi Jalan Dayeuhkolot depan Ria Busana, wilayah Cikarees Kecamatan Baleendah, hingga Jalan Sukabirus Kecamatan Dayeuhkolot.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bandung telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp65 miliar selama periode 2021–2026 untuk penanganan banjir di sejumlah kecamatan.

Rakor menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, di antaranya pembentukan tim pentahelix tingkat Kabupaten Bandung, peningkatan edukasi dan sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat, kolaborasi Danramil dan Babinsa dengan bank sampah, pengembangan desa percontohan pengelolaan sampah, hingga program penanaman pohon keras dari wilayah hulu.

Selain itu, persoalan sampah juga menjadi fokus utama. Saat ini volume sampah di Kabupaten Bandung mencapai sekitar 1.500 ton per hari, sementara kemampuan penanganannya baru sekitar 200 ton per hari.

Karena itu, peserta rakor sepakat mendorong gerakan pemilahan sampah dari tingkat rumah tangga agar volume sampah yang masuk ke lingkungan dapat berkurang secara signifikan.

Rakor ditutup dengan komitmen seluruh pihak untuk memperkuat sinergi dan mempercepat aksi nyata guna mengatasi banjir serta persoalan sampah di wilayah Bandung Raya.(Tedig)

Pos terkait