SUKABUMI — Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa perayaan Hari Nelayan Palabuhanratu tetap menjadi ikon budaya penting di wilayah pesisir selatan Jawa Barat.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyampaikan hal tersebut menyusul adanya pandangan sejumlah pihak yang menilai pelaksanaan Hari Nelayan dalam beberapa tahun terakhir mulai kehilangan sebagian nilai tradisi dan akar budayanya.
Menurut Ali, kritik yang muncul merupakan bagian dari dinamika masyarakat yang perlu dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat penyelenggaraan ke depan.
“Ya, tentu saja ini bagian dari dinamika, bagian dari tuntutan warga, dan sebagian tokoh yang merasa ada beberapa momentum yang mungkin kurang dimunculkan,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Hari Nelayan tetap memiliki posisi strategis sebagai identitas budaya daerah.
“Hari Nelayan itu ikon bagi Palabuhanratu, bagi Sukabumi,” tegasnya.
Ali juga mengungkapkan bahwa pada tahun ini Hari Nelayan Palabuhanratu belum masuk dalam daftar Kharisma Event Nusantara (KEN), yakni program nasional Kementerian Pariwisata yang menaungi event budaya unggulan dari berbagai daerah di Indonesia.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penurunan kualitas acara, melainkan lebih kepada faktor teknis administrasi serta masa transisi dalam kepengurusan panitia.
Meski belum masuk KEN, Dispar Sukabumi telah melakukan komunikasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat hingga Kementerian Pariwisata untuk memperjuangkan agar Hari Nelayan kembali mendapatkan pengakuan nasional.
Selain sebagai agenda budaya tahunan, perayaan Hari Nelayan juga diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan, seperti prosesi larung saji, upacara adat, serta arak-arakan budaya yang melibatkan pemerintah, pemangku adat, budayawan, dan masyarakat.
“Budaya itu merupakan bagian dari karakter bangsa,” kata Ali.
Ia menambahkan, Hari Nelayan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat untuk mencintai profesi nelayan serta meningkatkan kesadaran dalam menjaga lingkungan laut dan kawasan pesisir.
Menurutnya, tingkat partisipasi masyarakat menjadi salah satu indikator utama keberhasilan penyelenggaraan kegiatan tersebut.
“Keterlibatan masyarakat menjadi parameter terhadap suksesnya acara ini,” pungkasnya.

















