Bandung — Di tengah perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia, warga Dago Elos memilih kembali menyuarakan pesan bahwa bagi mereka, kemerdekaan belum sepenuhnya dirasakan.
Melalui rangkaian aksi solidaritas yang berlangsung pada 14–17 Agustus 2026, warga Dago Elos bersama sejumlah komunitas anak muda Bandung menghidupkan ruang warga dengan satu pesan utama: “Kita Belum Merdeka.”
Pesan tersebut lahir dari perjuangan panjang warga dalam mempertahankan ruang hidup sekaligus menghadapi persoalan sengketa tanah yang hingga kini masih bergulir melalui jalur hukum.
Namun, perjuangan kali ini tidak hanya disuarakan melalui aksi jalanan. Solidaritas dikemas melalui berbagai kegiatan kebudayaan dan literasi, mulai dari pertunjukan seni anak, galeri kemanusiaan, lapak buku, hingga pemutaran film dokumenter yang merekam perjalanan perjuangan warga Dago Elos selama satu dekade.
Rangkaian kegiatan juga diisi pertunjukan musik dari sejumlah band punk asal Kota Bandung, di antaranya DECAY dan TURTLES JR.
Ruang tersebut kemudian menjadi titik temu antara warga, komunitas, seniman, anak muda, hingga pelaku usaha kecil di sekitar Dago Elos.
“Warga Elos sangat terbantu dengan adanya aktivasi ruang di daerahnya. Selain meningkatkan literasi untuk warga, UMKM setempat pun sangat terbantu dengan kegiatan solidaritas yang dilakukan oleh anak-anak Bandung yang masih peka akan ruang hidup,” ujar Erik, warga Solidaritas.
Bagi warga Dago Elos, aktivitas kebudayaan bukan sekadar rangkaian acara. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan kolektif sekaligus menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan ruang hidup merupakan persoalan bersama.
Di tengah musik, buku, karya seni, dan aktivitas warga, persoalan hukum tetap menjadi bagian penting dalam perjuangan Dago Elos.
Warga menyebut proses hukum masih harus mereka hadapi meski sebelumnya sempat memperoleh putusan yang mereka anggap sebagai sebuah kemenangan.
“Kami masih berjuang di pengadilan. wWalaupun kita sempat menang atas putusan hakim, akan tetapi kami dipaksa kembali bertarung di pengadilan,” ujar Erik Warga Dago Elos.
Perayaan kemerdekaan di Dago Elos pun memiliki makna tersendiri. Bagi warga, kemerdekaan bukan sekadar upacara, pengibaran bendera, maupun seremoni tahunan.
Kemerdekaan juga dimaknai sebagai hak untuk mempertahankan rumah, tanah, ruang hidup, serta masa depan komunitas.
Dari Dago Elos, pesan itu kembali digaungkan:
“Tanah untuk rakyat.”
Selama perjuangan mempertahankan ruang hidup masih berlangsung, bagi warga Dago Elos, kemerdekaan belum selesai diperjuangkan.

















