ITB Dorong Transformasi Pembelajaran Sains di Cirebon melalui Kelas Kontekstual 4.0

CIREBON — Institut Teknologi Bandung (ITB) mendorong transformasi pembelajaran sains di tingkat sekolah menengah pertama melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Transformasi Pembelajaran Sains: Dari Miskonsepsi menuju Kelas Kontekstual 4.0” di Kampus ITB Cirebon, Kamis (20/8/2026).

Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB melalui Kelompok Keahlian Fisika Nuklir dan Biofisika (KK FNB) tersebut diikuti anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) tingkat SMP di Cirebon, khususnya guru mata pelajaran IPA.

Bacaan Lainnya

Program ini menjadi ruang bagi perguruan tinggi dan guru untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta praktik pembelajaran sekaligus memperkuat kolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan sains di sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Cirebon, H. Ronianto, S.Pd., M.M., menekankan pentingnya penyebarluasan pengetahuan yang diperoleh guru selama kegiatan. Menurut dia, manfaat pelatihan akan lebih besar apabila tidak berhenti pada peserta yang hadir.

“Ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada guru yang mengikuti pelatihan. Pengetahuan tersebut perlu didiseminasikan kepada rekan sejawat di sekolah maupun melalui forum MGMP,” ujar Ronianto.

Ia mengatakan, MGMP dapat menjadi ruang untuk mengembangkan kembali hasil pelatihan agar sesuai dengan kondisi sekolah dan kebutuhan pembelajaran masing-masing.

Sementara itu, Ketua KK Fisika Nuklir dan Biofisika ITB, Prof. Dr.Eng. Ir. Sidik Permana, S.Si., M.Eng., menilai hubungan antara perguruan tinggi dan guru perlu terus diperkuat, terutama dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin cepat.

“Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan riset, tetapi juga perlu hadir sebagai mitra guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengembangan kompetensi secara berkelanjutan,” kata Sidik.

Dalam kesempatan tersebut, para guru juga diperkenalkan dengan peluang pengembangan kapasitas akademik melalui Program Magister Pengajaran Fisika ITB. Pendidikan lanjut tersebut dapat menjadi salah satu pilihan bagi guru untuk memperluas wawasan keilmuan sekaligus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu.

Mengatasi Miskonsepsi dengan Pembelajaran Kontekstual

Salah satu materi utama kegiatan adalah miskonsepsi dalam pembelajaran sains. Guru diajak mengenali berbagai pemahaman keliru yang berpotensi memengaruhi cara siswa memahami konsep serta strategi untuk mengatasinya melalui pembelajaran yang lebih kontekstual.

Peserta juga diajak menghubungkan konsep sains yang diajarkan di sekolah dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Materi mengenai sains dan teknologi nuklir, biofisika, serta fisika medis menjadi contoh bagaimana konsep dasar fisika dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam biofisika, misalnya, konsep fisika dapat digunakan untuk menjelaskan berbagai mekanisme dalam tubuh manusia, mulai dari sistem pernapasan, pendengaran, dan penglihatan hingga aliran darah serta gerak tubuh.

Adapun dalam fisika medis, peserta diperkenalkan pada penerapan fisika dalam teknologi kesehatan, seperti sinar-X, CT Scan, MRI, ultrasonografi, kedokteran nuklir, dan radioterapi.

Pendekatan tersebut diharapkan membantu guru menghadirkan pembelajaran yang tidak semata-mata berorientasi pada rumus dan perhitungan, tetapi juga menjawab pertanyaan siswa mengenai alasan suatu konsep dipelajari dan penerapannya dalam kehidupan nyata.

Menjawab Tantangan Pembelajaran Era 4.0

Transformasi pembelajaran di era 4.0 turut menjadi perhatian dalam kegiatan tersebut. Perubahan karakter siswa, berkembangnya sumber belajar digital, serta semakin mudahnya akses terhadap informasi membuat guru dituntut untuk terus mengembangkan strategi pembelajaran.

Teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), diperkenalkan sebagai salah satu alat yang dapat membantu guru dalam proses pembelajaran. Pemanfaatannya antara lain untuk menyusun pertanyaan pemantik, membuat soal dengan tingkat kesulitan berbeda, mencari gagasan kegiatan pembelajaran, hingga menyiapkan bahan diskusi.

Namun, pemanfaatan AI tetap perlu disertai kemampuan guru untuk memverifikasi dan mengevaluasi informasi yang dihasilkan.

“Teknologi seharusnya mendukung proses berpikir, bukan menggantikannya. Guru tetap memegang peran utama dalam menentukan tujuan pembelajaran, memahami karakter siswa, dan memastikan teknologi digunakan secara tepat,” ujar Sidik.

Melalui pendekatan tersebut, teknologi diharapkan tidak sekadar menjadi alat presentasi, tetapi dapat mendorong siswa lebih aktif mengamati, menganalisis, berkolaborasi, dan memecahkan masalah.

Program Berlanjut hingga 24 Jam Pelajaran

Program pengabdian masyarakat ini tidak dirancang berhenti pada sesi tatap muka. Rangkaian kegiatan memiliki beban setara 24 Jam Pelajaran (JP), yang mencakup pembelajaran langsung di Kampus ITB Cirebon dan tugas mandiri.

Peserta diberikan waktu hingga 31 Agustus 2026 untuk menyelesaikan tugas mandiri dengan menerapkan materi workshop sesuai mata pelajaran dan kondisi kelas masing-masing.

Melalui tugas tersebut, guru diharapkan tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga menghasilkan gagasan atau aktivitas pembelajaran yang dapat diterapkan di sekolah dan dibagikan kepada guru lainnya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Program Studi Fisika FMIPA ITB dan KK FNB untuk mendekatkan perkembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.

Perkembangan fisika dan sains kini bersinggungan dengan berbagai bidang, mulai dari kesehatan, energi, lingkungan, material, komputasi hingga teknologi masa depan. Karena itu, pembelajaran sains dinilai memiliki peran penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, analitis, dan pemecahan masalah pada generasi muda.

Keterlibatan guru menjadi kunci agar perkembangan tersebut dapat diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang menarik dan relevan bagi siswa.

ITB berharap kegiatan di Cirebon tidak menjadi pertemuan satu kali, tetapi menjadi awal kolaborasi yang lebih berkelanjutan antara ITB, Dinas Pendidikan, MGMP, dan sekolah-sekolah di Cirebon.

Melalui kolaborasi, diseminasi pengetahuan kepada rekan sejawat, serta pengembangan kompetensi melalui pendidikan lanjut, perguruan tinggi dan guru diharapkan dapat bersama-sama menghadirkan pembelajaran sains yang semakin kontekstual, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, pembelajaran sains diharapkan tidak lagi dipandang siswa sekadar sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan, melainkan sebagai cara untuk memahami dunia, mengembangkan rasa ingin tahu, dan menciptakan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. (*)

Pos terkait