BANDUNG – Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung bersama Universitas Bakrie menggagas pembentukan Lab Inovasi Pariwisata Kota Bandung, sebuah model kolaboratif yang bertujuan mengembangkan pariwisata perkotaan berkelanjutan berbasis narasi budaya dan inovasi.
Kolaborasi ini menghadirkan model pengembangan pariwisata perkotaan yang mengintegrasikan warisan budaya, teknologi, dan inovasi.
Program ini mengintegrasikan pendekatan ilmu komunikasi dan manajemen inovasi untuk mengubah warisan budaya Kota Bandung menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Melalui kurasi narasi, prototyping pengalaman wisata, dan orkestrasi ekosistem, Lab Inovasi Pariwisata diharapkan mampu menciptakan pengalaman wisata yang lebih autentik, inovatif, dan bernilai ekonomi.
Inisiatif tersebut lahir dari kebutuhan untuk menggeser paradigma pengembangan pariwisata yang selama ini lebih berfokus pada promosi dan viralitas jangka pendek. Kota Bandung dinilai memiliki kekayaan sejarah dan budaya yang dapat dimanfaatkan sebagai infrastruktur inovasi perkotaan sekaligus penggerak daya saing daerah.
Lab Inovasi Pariwisata Kota Bandung memiliki tiga fokus utama, yaitu kurasi narasi budaya melalui storytelling, pengembangan dan pengujian pengalaman wisata inovatif, serta penguatan kolaborasi multipihak melalui model bisnis dan ekosistem yang berkelanjutan.
Secara akademis, program ini didukung oleh tiga landasan utama, yakni konsep heritage tourism yang memandang warisan budaya sebagai sumber pengalaman dan nilai ekonomi, pendekatan city as media yang melihat kota sebagai medium pembentuk makna, serta manajemen inovasi sebagai proses sistematis untuk menciptakan, menguji, dan mengimplementasikan inovasi.
Dalam pelaksanaannya, Lab Inovasi Pariwisata menggunakan metode mixed-methods yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat kolaborasi, penciptaan nilai, dan daya saing pariwisata. Sementara itu, pendekatan kualitatif dilakukan melalui focus group discussion (FGD), wawancara mendalam, dan observasi lapangan guna memahami interaksi wisatawan dan masyarakat terhadap narasi warisan budaya kota.
Sebagai mitra strategis, Badan Promosi Pariwisata Kota Bandung berperan sebagai katalisator, fasilitator, penyedia ruang uji coba (testing ground), sekaligus penghubung dengan kebijakan publik. Sementara Universitas Bakrie melalui Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis bertugas menjalankan riset, inovasi, inkubasi bisnis, serta menyusun rekomendasi akademis.
Sejumlah program utama yang akan dijalankan meliputi riset tren dan pemetaan potensi pariwisata, forum inovasi lintas sektor, pengembangan dan uji coba pengalaman wisata, inkubasi UMKM dan start-up pariwisata, penyusunan policy brief untuk pemerintah daerah, penyelenggaraan pameran inovasi wisata, serta publikasi dampak melalui media dan karya ilmiah.
Melalui program ini, aset warisan budaya Kota Bandung diharapkan dapat ditransformasikan menjadi sumber keunggulan kompetitif yang berkelanjutan. Selain meningkatkan daya saing pariwisata kota, model yang dikembangkan juga diharapkan menjadi cetak biru pengembangan pariwisata perkotaan yang dapat direplikasi oleh kota-kota lain di Indonesia.
Luaran yang ditargetkan mencakup model konseptual inovasi pariwisata perkotaan, rekomendasi kebijakan strategis, publikasi ilmiah, produk wisata baru berbasis narasi dan teknologi, penguatan UMKM serta start-up kreatif, hingga peningkatan daya saing pariwisata Kota Bandung secara berkelanjutan. (Dali)

















