BANDUNG — Pemerintah Kabupaten Bandung memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana kekeringan, krisis air bersih, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Upaya tersebut ditandai dengan pelaksanaan Apel Kesiapsiagaan Bencana Kekeringan serta Kebakaran Hutan dan Lahan Kabupaten Bandung yang digelar di Dome Bale Rame Sabilulungan, Jalan Al Fathu, Desa Pamekaran, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung, Selasa (11/8/2026).
Apel berlangsung pukul 13.30 hingga 14.00 WIB dan dipimpin langsung Bupati Bandung Dadang Supriatna. Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Bandung Ali Syakieb, Dandim 0624/Kabupaten Bandung Letkol Kav Samto Betah, perwakilan Kapolresta Bandung Kompol Edi Pramana selaku Kasat Binmas, perwakilan Lanud Sulaiman Kapten Tek Suharjanto, Kalak BPBD Kabupaten Bandung Gamber Irmawan, serta para kepala dinas dan camat.
Dalam amanatnya, Bupati Dadang Supriatna menegaskan bahwa apel kesiapsiagaan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bentuk komitmen bersama untuk memastikan seluruh unsur pemerintah dan masyarakat siap menghadapi ancaman bencana.
“Kita tidak boleh menunggu bencana terjadi baru kemudian bertindak. Kesiapsiagaan harus dimulai dari sekarang melalui pemetaan wilayah rawan, deteksi dini, pencegahan, koordinasi, dan respons yang cepat,” tegasnya.
Pemerintah Diminta Proaktif Penuhi Kebutuhan Air Bersih
Bupati memberikan perhatian khusus terhadap potensi kekeringan dan kesulitan air bersih yang dapat dialami masyarakat selama musim kemarau.
BPBD bersama perangkat daerah terkait, camat, kepala desa dan lurah diminta melakukan pemantauan serta pendataan secara akurat terhadap wilayah yang terdampak.
Pemerintah, kata Dadang, tidak boleh hanya menunggu laporan masyarakat.
“Pemerintah harus proaktif mendatangi dan memastikan kondisi masyarakat di lapangan,” ujarnya.
Selain itu, seluruh sumber daya, termasuk armada tangki air, sumber air, personel, peralatan dan posko penanggulangan bencana diminta dipastikan dalam kondisi siap digunakan apabila kebutuhan masyarakat meningkat.
Kolaborasi juga diperkuat dengan melibatkan TNI, Polri, Damkar, PDAM, pemerintah desa, dunia usaha melalui CSR, relawan, LSM dan berbagai elemen masyarakat.

Antisipasi Kebakaran Hutan dan Lahan
Selain persoalan kekeringan, Pemkab Bandung juga menaruh perhatian terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. Kondisi lahan yang kering selama musim kemarau dinilai dapat menyebabkan api lebih cepat membesar dan meluas.
Karena itu, seluruh unsur terkait diminta meningkatkan patroli, pengawasan dan deteksi dini di kawasan yang memiliki potensi rawan kebakaran.
Bupati juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah sembarangan, serta menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Jika ada asap atau titik api, jangan menunggu api membesar. Segera laporkan dan lakukan penanganan awal sesuai prosedur,” katanya.
Libatkan Masyarakat dalam Kesiapsiagaan
Dadang juga meminta para camat, kepala desa dan lurah menjadikan masyarakat sebagai bagian penting dalam sistem kesiapsiagaan bencana.
Semangat gotong royong, relawan, komunitas, masyarakat peduli api dan berbagai elemen masyarakat diharapkan terus diaktifkan untuk memperkuat kemampuan menghadapi bencana.
Menurutnya, penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tugas BPBD atau pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama.
Masyarakat juga diajak menggunakan air secara bijak dan hemat, menjaga sumber air, tidak mencemari lingkungan serta mempertahankan kawasan resapan air.

Libatkan Lintas Instansi
Apel kesiapsiagaan tersebut melibatkan berbagai unsur, antara lain Kodim 0624 Kabupaten Bandung, Lanud Sulaiman, Polresta Bandung, Kantor SAR Bandung, KPH Perhutani Bandung Selatan, BPBD, Dishub, Satpol PP, Dinkes, Diskominfo, Disdamkar, DLH, DPUTR, Disperkimtan, Dinsos, PLN UP3 Majalaya, PMI Kabupaten Bandung, PDAM Tirta Raharja, BAZNAS, AMCF dan FPRB.
Masing-masing unsur menyiagakan personel sebagai bagian dari kesiapan menghadapi potensi bencana di wilayah Kabupaten Bandung.
Bupati menekankan pentingnya seluruh unsur bergerak dalam satu koordinasi dan komunikasi.
“BPBD, Damkar, TNI, Polri, perangkat daerah, kecamatan, desa, relawan, dunia usaha, dan masyarakat harus bergerak dalam satu irama,” katanya.
Ia berharap apel tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan Kabupaten Bandung, bukan hanya menghadapi kekeringan dan karhutla, tetapi juga membangun masyarakat yang semakin tangguh menghadapi berbagai risiko bencana.
“Kita kenali ancamannya, kita kurangi risikonya, kita siapkan sumber dayanya, dan kita hadir dengan cepat ketika masyarakat membutuhkan,” pungkasnya.

















