
SUKABUMI – Langit di Bukit Panenjoan di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi siang itu tampak lebih hidup dari biasanya, Sabtu (25/04/2026). Di antara birunya cakrawala dan hamparan hijau perbukitan, seekor burung berwarna mencolok terbang membelah udara. Sayapnya lebar, warnanya kuning dan biru menyala. Sesekali berputar, lalu kembali mendekat, seolah tahu ke mana harus pulang.
Di bawahnya, seorang pria bernama Ade berdiri santai. Matanya mengikuti arah terbang burung itu dengan tenang, tanpa terlihat cemas. Bagi sebagian orang, melepas burung mahal terbang bebas mungkin terdengar berisiko. Tapi tidak bagi Ade.
“Ini baru delapan bulan,” katanya sambil menunjuk burung jenis blue and gold macaw (ara ararauna) yang baru saja mendarat tak jauh darinya.
Baca Judul: Keluar Masuk Truk Proyek Tol Bocimi, Lalin Padat Merayap Simpang Cibolang Padat Merayap
Ade bukan sekadar pemilik burung. Ia adalah pelatih, sekaligus teman bagi burung-burung yang ia rawat sejak kecil. Dari betet jawa (psittacula alexandri) hingga burung eksotis seperti macaw dan alexandrine parakeet (psittacula eupatria), semuanya ia latih untuk satu hal yang tidak biasa: terbang bebas, lalu kembali.

Perjalanan itu tidak singkat.
Pria asal Cikukulu, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi ini bercerita, biasanya, burung didatangkan dari penangkaran saat masih sangat muda. Dari situ, proses pelatihan dimulai perlahan.
Tidak ada cara instan. Semua dilakukan bertahap, menyesuaikan karakter masing-masing burung.
“Paling cepat satu bulan sudah bisa terbang, tapi biasanya masih suka salah mendarat,” ujarnya.
Baca Judul: Hari Keempat Haji 1447 H: 15.349 Jemaah Berangkat ke Arab Saudi, Ribuan Sudah Tiba di Madinah
Ia menyebutnya mis-landing—ketika burung belum sepenuhnya fokus kepada pemiliknya.
Dalam fase itu, burung bisa saja hinggap di tempat yang tak terduga. Di dahan pohon tinggi, di atap bangunan, bahkan di menara. Momen-momen seperti itu menjadi tantangan tersendiri.
“Namanya juga hewan yang terbang bebas, kadang bisa nemplok di mana saja,” katanya.
Namun justru di situlah letak seninya. Melatih burung bukan hanya soal membuatnya patuh, tetapi membangun kepercayaan. Bahwa sejauh apa pun ia terbang, ada satu titik yang akan selalu ia tuju untuk kembali.
Baca Judul: Fenomena Unik Sukabumi, Turaes atau ‘Tonggeret’ Melimpah, Warga Ramai-ramai Mengolahnya Jadi Makanan
Bukit Panenjoan menjadi salah satu tempat favorit Ade untuk melatih burung-burungnya. Selain karena lokasinya yang tinggi, suasana alam yang terbuka membuat burung lebih leluasa.
“Di sini burung lebih happy,” ucapnya singkat.
Tak banyak gangguan, kecuali pepohonan yang kadang menjadi “rintangan alami” saat burung bermanuver di udara.
Untuk mengurangi risiko, Ade melengkapi burungnya dengan penanda. Beberapa burung berukuran besar bahkan dipasangi GPS. Di kaki mereka, terpasang ring identitas—semacam tanda pengenal jika suatu saat burung mendarat di tempat yang jauh dari jangkauan.
Baca Judul: Prakiraan Cuaca Sukabumi Sabtu 25 April 2026: Hujan Ringan, Sejumlah Wilayah Masih Berawan
Meski begitu, pada akhirnya semua kembali pada insting dan ikatan yang terbangun.
Setiap sesi latihan biasanya berlangsung singkat, sekitar lima hingga sepuluh menit. Cukup untuk memberi ruang bagi burung merasakan kebebasan, lalu kembali dalam kendali.
Di tengah tren hobi yang terus berkembang, apa yang dilakukan Ade mungkin terdengar tidak biasa. Tapi di balik itu, ada kesabaran, ketelatenan, dan hubungan yang tak kasat mata antara manusia dan hewan.
Di langit Panenjoan, burung-burung itu tidak sekadar terbang. Mereka sedang belajar satu hal penting—bebas, tapi tahu jalan pulang.
Tontonan Gratis
Di lokasi yang sama, aktivitas latihan burung ini juga menarik perhatian pengunjung. Salah satunya Waldi Suhendi, yang mengaku baru pertama kali melihat langsung burung-burung eksotis seperti macaw terbang bebas di alam terbuka.
Menurut Waldi, pemandangan tersebut menjadi pengalaman yang tidak biasa. Ia menyebut burung-burung seperti itu jarang ditemui, apalagi bisa disaksikan dari jarak dekat tanpa harus datang ke kebun binatang atau tempat khusus.
“Jarang banget bisa lihat burung seperti ini, apalagi terbang bebas. Biasanya kan cuma lihat di internet atau di kebun binatang,” ujarnya.
Ia pun menilai aktivitas yang dilakukan Ade secara tidak langsung menjadi hiburan gratis bagi pengunjung Bukit Panenjoan. “Ini jadi tontonan gratis yang menarik. Kita yang lagi main ke sini jadi dapat pengalaman baru,” kata Waldi sambil tersenyum.
The post Melihat Burung Eksotis Terbang Menari di Bukit Panenjoan Sukabumi first appeared on Sukabumi Ku.














