
SUKABUMI — Sosok pengusaha muda asal Kota Sukabumi, Rian Rinaldy (33), berhasil mencuri perhatian dengan kiprahnya di pasar internasional.
Melalui Galery Manakara, ia sukses menembus pasar global sebagai importir batu amethyst dari Brasil sekaligus eksportir kayu fosil (fossil wood) olahan khas Indonesia.
Berasal dari Kampung Cimanggah, Kecamatan Cikole, Rian memulai usahanya dari skala kecil hingga kini mampu menjangkau konsumen luar negeri. Ia menjadi satu-satunya importir amethyst di wilayah Sukabumi yang langsung mendatangkan bahan dari Brasil untuk diolah dan dipasarkan kembali.
“Saya melihat peluang dari batu alam yang punya nilai seni tinggi. Dari situ saya mulai membangun jaringan hingga bisa impor langsung dari luar negeri,” kata dia kepada sukabumiku.id saat ditemui di galery nya yang berada di Kampung Cimanggah Kecamatan Cikoleh pada, Sabtu (25/04/26).
BACA JUGA : Batu Akik Kota Sukabumi Kembali Bersinar, 500 Koleksi Ramaikan HUT ke-112
Tak hanya mengandalkan impor, Rian juga mengembangkan potensi lokal. Bahan baku kayu fosil dari Banten dan Sumatra diolah di Sukabumi menjadi berbagai produk bernilai tinggi seperti dekorasi, aksesoris, hingga kerajinan eksklusif.
“Semua proses finishing kami lakukan di Sukabumi. Kami ingin produk lokal punya kualitas ekspor dan bisa bersaing di pasar dunia,” katanya.
Keunikan produknya membuat Galery Manakara dilirik berbagai kalangan, termasuk pejabat tinggi negara. Beberapa di antaranya memesan produk untuk koleksi hingga kebutuhan simbolik seperti tongkat komando.
“Alhamdulillah, sudah ada pesanan dari kalangan pejabat. Itu jadi motivasi bagi kami untuk terus menjaga kualitas,” ungkap Rian.
BACA JUGA : Pesona Alam Pantai Karang Bolong Sukabumi, Surga Tersembunyi Favorit Wisatawan Berkemah
Namun di balik kesuksesan tersebut, tantangan besar masih dihadapi, terutama terkait biaya logistik. Menurutnya, ongkos ekspor dan impor masih tergolong tinggi dan kerap melebihi nilai barang.
“Harga retail bisa sekitar Rp600 ribu per kilogram, tapi ongkos ekspor mencapai Rp350 ribu sampai Rp400 ribu per kilogram. Ini cukup berat bagi pelaku usaha,” jelasnya.
Untuk pengiriman skala besar, biaya satu kontainer berkapasitas hingga 20 ton bisa mencapai Rp55 juta hingga Rp125 juta, tergantung tujuan pengiriman.
“Biaya kirim jadi tantangan utama kami untuk berkembang lebih jauh di pasar global,” tambahnya.
Meski demikian, Rian tetap optimistis usahanya akan terus berkembang. Ia berharap adanya dukungan pemerintah untuk membantu pelaku usaha muda agar mampu bersaing di tingkat internasional.
“Harapan kami, ada kemudahan dalam ekspor-impor agar produk dari Sukabumi bisa semakin dikenal dunia,” pungkasnya. (Yos/ky)
The post Importir Muda Asal Sukabumi Tembus Pasar Global, Bawa Batu Akik hingga Kayu Fosil ke Mancanegara first appeared on Sukabumi Ku.














