
SUKABUMI — Di salah satu ruang perawatan RSUD Palabuhanratu, tangis seorang balita sesekali memecah kesunyian. Di tengah tubuh mungilnya yang masih dibalut perawatan akibat luka bakar, Muhammad Arya yang baru berusia 3,5 tahun terus memanggil satu sosok yang tak lagi bisa menjawab.
Suara lirih itu berulang kali keluar dari mulut Arya setiap kali rasa sakit mulai datang. Ia belum memahami bahwa perempuan yang terus dipanggilnya telah mengorbankan nyawa demi menyelamatkannya dari kobaran api yang melalap rumah mereka di Kampung Cibodas Hilir, Desa Cibodas, Kecamatan Palabuhanratu, Sabtu (4/7/2026).
Balita itu mengalami luka bakar sekitar 40 persen. Di samping tempat tidurnya, sang paman, Kemal (41), tak pernah beranjak jauh. Ia mengusap kepala keponakannya, menghibur, sekaligus berusaha menggantikan pelukan seorang ibu yang kini telah tiada.
Baca Juga: Ini Isi Perpres Prabowo yang Masukkan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Daftar Ancaman Nonmiliter
“Kalau efek obatnya mulai habis, dia sering menangis sambil memanggil mamanya,” tutur Kemal dengan mata berkaca-kaca.
Menurut Kemal, keluarga meyakini almarhumah Eni lebih dahulu menyelamatkan Arya ketika api mulai membesar di dalam rumah. Sang ibu diduga membawa anaknya ke ruang tengah agar terhindar dari kobaran api.
Setelah memastikan buah hatinya berada di tempat yang lebih aman, Eni diduga kembali menuju dapur untuk mencoba memadamkan api yang berasal dari kompor dan kemudian menyambar bensin eceran yang berada di dalam rumah.
“Anak ini sudah lepas susu. Saat kejadian, ibunya sudah sempat mengamankan Arya ke ruang tengah,” ujar Kemal.
Baca Juga: Arus Wisata Padat, Polisi Berlakukan One Way Parsial di Exit Tol Parungkuda Sukabumi
Dugaan itu diperkuat dari lokasi ditemukannya Arya saat proses evakuasi. Balita tersebut berhasil diselamatkan, sedangkan ibunya tidak sempat keluar dari rumah yang telah dipenuhi kobaran api.
Hari-hari Arya kini dihabiskan di ruang perawatan. Ketika obat penahan nyeri mulai berkurang efeknya, tubuh kecilnya menjadi gelisah. Kemal pun menggendong keponakannya menggunakan kain jarik, berhati-hati agar selang infus tetap terpasang.
Ia membawa Arya keluar ruangan sejenak, membiarkan angin menerpa wajahnya sambil mengipasi dengan kipas kecil.
“Mungkin dia merasa gerah. Kalau sudah mulai resah, saya ajak keluar sebentar supaya kena angin,” katanya.
Baca Juga: Rumah Panggung di Palabuhanratu Terbakar, Satu Orang Meninggal Dunia
Musibah itu tak hanya meninggalkan luka bakar di tubuh Arya. Dalam hitungan menit, ia kehilangan dua tempat paling berharga dalam hidupnya: ibunya dan rumah tempat ia dibesarkan.
Seluruh bangunan rumah panggung milik keluarga habis dilalap api. Sementara sang ayah diketahui sedang bekerja di luar pulau sehingga belum berada di sisi putranya saat musibah terjadi.
“Selain kehilangan ibundanya, sekarang dia juga kehilangan rumah untuk berteduh. Semuanya habis terbakar,” ucap Kemal pelan.
Peristiwa tragis itu bermula ketika kebakaran melanda rumah keluarga Arya pada Sabtu siang. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Sukabumi menerima laporan sekitar pukul 10.50 WIB dan langsung mengerahkan personel ke lokasi.
Baca Juga: Tim SAR Gabungan Temukan Bocah Teseret Arus Sungai Cicatih di Ciambar Sukabumi
Komandan Pos 1 Palabuhanratu DPKP Kabupaten Sukabumi, Aceng Ismail, mengatakan dugaan sementara kebakaran dipicu api dari kompor gas yang menyambar bensin sehingga kobaran api dengan cepat membesar.
“Dugaan sementara penyebab kebakaran berasal dari kompor gas yang menyambar ke bensin,” kata Aceng.
Petugas berhasil memadamkan api sebelum merembet ke bangunan lain. Namun, nyawa Eni tidak dapat diselamatkan.
The post Kisah Pilu Kebakaran Palabuhanratu: Ibu Korbankan Nyawa demi Selamatkan Anak first appeared on Sukabumi Ku.

















