Kota Bandung Bangun Ekosistem Literasi Modern, Akses 1.800 Buku Kini Cukup Lewat Ponsel

BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus memperkuat budaya literasi masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut ditandai dengan meluncurkan Program MACA (Membaca Cerdas) pada pembukaan Festival Literasi Kota Bandung 2026 yang mengusung tema Membaca Bandung, Menulis Masa Depan.

Festival yang berlangsung pada 29–31 Juli 2026 di Kantor Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Kota Bandung, Jalan Seram Nomor 2, menjadi ajang kolaborasi pemerintah, akademisi, komunitas literasi, pelajar hingga sektor swasta dalam membangun ekosistem literasi yang lebih inklusif dan mudah diakses.

Bacaan Lainnya

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, tantangan literasi saat ini bukan lagi memaksa masyarakat membaca buku, melainkan menumbuhkan rasa ingin tahu yang kemudian diarahkan pada sumber informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Literasi bukan sekadar membaca buku tebal. Literasi adalah rasa ingin tahu yang dieksplorasi melalui berbagai media. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat mampu menemukan informasi yang tepat dan memanfaatkannya,” kata Farhan.

Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah cara masyarakat memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, perpustakaan harus hadir sebagai gerbang akses informasi yang mudah dijangkau oleh seluruh warga.

Melalui Program MACA, masyarakat cukup memindai QR Code untuk memperoleh rekomendasi buku digital dan referensi bacaan tanpa harus membeli buku. Platform tersebut menjadi bagian dari transformasi layanan perpustakaan berbasis digital yang dapat diakses kapan pun dan di mana pun.

Farhan juga mengaitkan pentingnya literasi dengan penguatan karakter masyarakat serta budaya gotong royong.

Ia menilai, konsep “Warga Jaga Warga” tetap relevan di tengah perkembangan zaman karena merupakan implementasi nilai gotong royong yang menjadi inti Pancasila. Menurutnya, masyarakat hanya dapat saling menjaga apabila memiliki pengetahuan dan kesadaran yang dibangun melalui literasi.

“Literasi menjadi kunci agar masyarakat memahami bagaimana melindungi kelompok rentan seperti anak, perempuan, penyandang disabilitas hingga lansia. Pengetahuan itu akan memperkuat budaya saling menjaga di lingkungan,” ujarnya.

Farhan juga mendorong agar gerakan literasi terintegrasi dengan berbagai program pemerintah, termasuk pemberantasan buta huruf Al-Qur’an yang tidak hanya mengajarkan membaca tetapi juga memahami terjemahan dan tafsir sehingga mampu menumbuhkan rasa ingin tahu masyarakat.

Ia mengutarakan, peningkatan kualitas literasi menjadi kebutuhan mendesak karena tingkat pendidikan masyarakat Kota Bandung terus meningkat. Saat ini, sekitar 10 persen lulusan SMA di Kota Bandung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi jauh di atas rata-rata nasional.

Sementara itu, Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Dewi Kaniasari menjelaskan, Festival Literasi 2026 menjadi wadah kolaborasi berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat budaya baca di Kota Bandung.

Selain meluncurkan Program MACA, pada kesempatan tersebut juga diberikan penghargaan kepada para pemenang Lomba Perpustakaan Kelurahan Terbaik Kota Bandung Tahun 2026. Perpustakaan Gemilang dari Kelurahan Padasuka, Kecamatan Cibeunying Kidul, bahkan berhasil masuk delapan besar tingkat Provinsi Jawa Barat.

Dewi menjelaskan, platform MACA merupakan hasil kolaborasi Dinas Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung bersama PT Aksara Maya dan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung. Platform tersebut menyediakan layanan perpustakaan digital berbasis aplikasi Android dan web dengan koleksi awal sebanyak 357 judul dan 1.800 eksemplar buku digital dari berbagai penerbit nasional.

Pada tahap awal, QR Code akses MACA akan dipasang di sekitar 100 titik ruang publik dalam ruangan seperti kantor pelayanan, puskesmas, rumah sakit, mal hingga fasilitas umum lainnya. Dalam beberapa tahun ke depan jumlah titik akses ditargetkan mencapai 1.000 lokasi.

Selain itu, Disarpus Kota Bandung juga akan meluncurkan inovasi Titik Baca QR Code di ruang terbuka dan RoboBook, robot interaktif yang menghadirkan pengalaman membaca cerita bagi anak-anak melalui fitur storytelling pada peringatan Hari Jadi Kota Bandung mendatang.

Sedangkan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Aminudin Aziz mengapresiasi komitmen Pemerintah Kota Bandung dalam membangun budaya literasi berbasis kolaborasi.

Ia menuturkan masyarakat Indonesia sejatinya memiliki minat baca yang tinggi apabila bahan bacaan yang tersedia sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka.

“Hakikat literasi bukan hanya membaca dan menulis, tetapi bagaimana masyarakat memperoleh informasi kemudian memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup,” ujar Aminudin.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan data kegiatan literasi. Menurutnya, banyak aktivitas literasi yang telah dilakukan masyarakat belum terdokumentasi dengan baik sehingga belum mampu menggambarkan kondisi literasi yang sesungguhnya.

“Saya berpesan kepada seluruh warga yang ada hadir di tempat ini jangan jadikan festival jadi tujuan tapi mari kita kawal proses yang jauh lebih fundamental. Lebih utama yaitu proses mulai bisa mengakses, mulai bisa memanfaatkan setiap informasi yang ada di sekeliling kita untuk kepentingan peningkatan kualitas hidup kita,” tuturnya. (Diskominfo Kota Bandung)**

Pos terkait