Psikotropika di Bandung: Dari Pelarian Sesaat Menjadi “Doping” Menghadapi Tekanan Hidup

BANDUNG — Persoalan penyalahgunaan psikotropika di Bandung bukan fenomena yang baru muncul dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pola penggunaannya dinilai mengalami pergeseran. Jika sebelumnya sebagian orang menggunakan zat tersebut sekadar untuk mencari sensasi atau pelarian sesaat, kini muncul cerita tentang penggunaan yang dianggap sebagai “doping” untuk menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan sehari-hari.

Fenomena tersebut menggambarkan persoalan yang lebih luas. Di tengah tekanan ekonomi, sulitnya mendapatkan pekerjaan, serta tuntutan produktivitas yang semakin tinggi, sebagian anak muda merasa membutuhkan sesuatu yang dapat membuat mereka terus bekerja dan menghasilkan penghasilan bagi keluarga.

Bacaan Lainnya

Kondisi tersebut terutama dirasakan oleh kelompok pekerja berpenghasilan menengah ke bawah yang harus menghadapi jam kerja panjang serta persaingan ekonomi yang semakin ketat. Tekanan ini turut menimpa pekerja sektor informal hingga pelaku usaha kecil yang dituntut terus bergerak mengikuti ritme kehidupan serba cepat. Salah satunya Ganjar, pasien rehabilitasi yang kini menjalani profesi sebagai pengemudi ojek online.

“Bukan hanya soal mental health. Anak-anak muda hari ini juga sedang berhadapan dengan tekanan industri yang begitu cepat. Manusia seolah dipaksa menjadi robot algoritma,” ujar Ganjar.

Menurutnya, persoalan penyalahgunaan psikotropika tidak semestinya hanya dilihat dari sisi individu pengguna. Ada persoalan sosial dan ekonomi yang ikut mendorong seseorang mencari jalan keluar instan ketika tubuh dan pikirannya sudah berada di bawah tekanan.

Keluhan seperti sulit fokus, bekerja lebih dari delapan jam, sulit tidur, kecemasan hingga kehilangan kepercayaan diri, menurut Ganjar, kerap muncul dalam percakapan dengan anak muda yang menghadapi tekanan pekerjaan dan kehidupan.

Namun, kondisi tersebut tidak dapat dijadikan pembenaran untuk menggunakan psikotropika.

Penggunaan zat secara terus-menerus justru berpotensi menimbulkan persoalan baru, baik bagi pengguna maupun lingkungan sosial di sekitarnya. Karena itu, penyalahgunaan psikotropika perlu dipandang sebagai persoalan bersama yang membutuhkan pendekatan kesehatan, sosial, ekonomi sekaligus penegakan hukum.

Ganjar juga menyoroti persoalan akses terhadap zat terlarang yang menurutnya masih menjadi perhatian. Pengawasan terhadap peredaran obat dan zat yang berpotensi disalahgunakan dinilai menjadi pekerjaan besar bagi pihak-pihak terkait.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar tekanan ekonomi dan beratnya kehidupan tidak dijadikan alasan untuk membenarkan penggunaan psikotropika.

“Jangan terjebak dengan kata ‘mental health’. Kita memang hidup dalam tekanan, tetapi itu bukan alasan untuk terus bergantung pada psikotropika,” katanya.

Ganjar menilai proses pemulihan bukan perkara mudah. Namun, ia mendorong anak muda yang ingin lepas dari ketergantungan untuk mulai membangun kembali kebiasaan yang lebih sehat, seperti berolahraga, membaca, berkarya dan menjalankan ibadah.

Baginya, langkah-langkah tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi ketika seseorang sudah terjebak dalam penggunaan zat, kemauan untuk berhenti menjadi salah satu langkah penting untuk memulai proses pemulihan.

Pesan itu kemudian ia tutup dengan kalimat sederhana yang menggambarkan keinginannya untuk keluar dari persoalan tersebut.

“Aku ingin sembuh,” ujar Ganjar.

Dugaan Peredaran Psikotropika di Klinik Jadi Sorotan

Di sisi lain, kekhawatiran masyarakat Salah Satunya Dedi warga Cigugur Girang menurutnya  dugaan mudahnya memperoleh obat yang mengandung psikotropika melalui sejumlah fasilitas kesehatan turut menjadi perhatian.

Jika terdapat dugaan penjualan atau pemberian obat yang tidak sesuai prosedur, pemeriksaan oleh pihak berwenang diperlukan untuk memastikan fakta di lapangan. Tindakan tegas juga penting apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran.

Persoalan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa fasilitas kesehatan seharusnya menjadi tempat masyarakat memperoleh layanan medis yang aman dan sesuai aturan, bukan justru menjadi celah bagi penyalahgunaan obat.

Karena itu, diperlukan pengawasan yang transparan serta keterlibatan masyarakat dalam melaporkan dugaan pelanggaran kepada pihak yang berwenang.

Pada akhirnya, persoalan psikotropika di Bandung tidak hanya berbicara mengenai zat dan penggunanya. Di baliknya terdapat persoalan tekanan ekonomi, dunia kerja, kesehatan mental, akses terhadap layanan kesehatan, hingga pengawasan terhadap peredaran obat.

Tekanan hidup boleh semakin berat. Namun, jalan keluar dari persoalan tersebut tidak semestinya membuat seseorang harus mempertaruhkan kesehatan dan masa depannya.

“Saya berharap lingkungan kami bersih dari peredaran obat-obatan yang disalahgunakan oleh masyarakat,” ujar Dedi. (Rul)

Pos terkait