Ranty Rachmatilah: Perang Melawan Stunting Dimulai dari Posyandu dan Keluarga

SUKABUMI — Upaya menekan angka stunting di Kota Sukabumi tidak cukup hanya mengandalkan layanan kesehatan. Penguatan peran kader PKK dan Posyandu hingga tingkat lingkungan dinilai menjadi salah satu kunci agar persoalan tumbuh kembang anak dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) bertajuk “Peran Strategis Kader Posyandu dan PKK dalam Percepatan Penurunan Stunting” yang digelar di Kelurahan Baros, Kota Sukabumi, Senin (24/7).

Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TP-PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatilah, Camat Baros Angga Sugia Wijaya, jajaran TP-PKK Kecamatan Baros, Lurah Baros serta para kader PKK dan Posyandu.

Dalam kegiatan itu, Ranty menegaskan bahwa kader di tingkat masyarakat memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan keluarga dan anak-anak yang membutuhkan perhatian.

Menurutnya, persoalan stunting harus dipandang sebagai ancaman jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan dan kemampuan anak di masa mendatang.

“Stunting adalah masalah gagal tumbuh kembang yang berdampak pada perkembangan kognitif atau kecerdasan otak anak. Anak yang mengalami stunting juga lebih rentan terhadap penyakit dan dapat menghadapi tantangan dalam bersaing di masa depan,” tegas Ranty.

Ia mengaitkan upaya pencegahan stunting dengan cita-cita membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak yang saat ini tumbuh di lingkungan keluarga dan mendapatkan pelayanan Posyandu, kata dia, merupakan bagian dari generasi yang akan menentukan masa depan daerah.

Karena itu, penguatan pelayanan di tingkat paling bawah menjadi penting. Ranty menilai pemerintah akan kesulitan menjangkau seluruh persoalan keluarga tanpa dukungan kader yang memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.

“Kader Posyandu dan pengurus TP-PKK merupakan garda terdepan. Program pemerintah tidak akan maksimal menyentuh persoalan di tingkat masyarakat tanpa dukungan para kader,” ujarnya.

Ranty juga mendorong TP-PKK memaksimalkan perannya melalui 10 Program Pokok PKK, khususnya dalam bidang kesehatan dan lingkungan.

Menurutnya, pendekatan persuasif yang dilakukan kader kepada keluarga dapat menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kesadaran mengenai pola hidup bersih dan sehat, pemenuhan gizi serta pentingnya pemeriksaan rutin bagi ibu dan anak.

Di sisi lain, kader Posyandu memiliki peran penting dalam melakukan pemantauan pertumbuhan balita. Pengukuran berat badan, panjang atau tinggi badan serta pencatatan perkembangan anak harus dilakukan secara tepat agar potensi masalah pertumbuhan dapat diketahui lebih awal.

“Penimbangan berat badan, pengukuran panjang atau tinggi badan hingga pencatatan pada kurva pertumbuhan merupakan bagian penting dari deteksi dini stunting,” kata Ranty.

Ia juga mengingatkan bahwa pencegahan stunting tidak selalu membutuhkan makanan dengan harga mahal. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan edukasi mengenai sumber protein dan gizi yang mudah diperoleh dengan harga terjangkau.

Telur, ikan, tahu dan tempe, misalnya, dapat menjadi bagian dari pilihan makanan bergizi apabila diolah dan diberikan sesuai kebutuhan anak.

“Masih ada anggapan bahwa makanan bergizi harus mahal. Padahal, sumber protein hewani seperti telur dan ikan dapat diperoleh dengan harga yang relatif terjangkau,” jelasnya.

Upaya pencegahan juga harus dilakukan sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun atau yang dikenal dengan periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Ranty menekankan pentingnya pemenuhan gizi ibu hamil, konsumsi tablet tambah darah, pemantauan kesehatan kehamilan serta perhatian terhadap kondisi bayi setelah lahir.

Selain persoalan asupan makanan, faktor lingkungan juga tidak boleh diabaikan. Sanitasi buruk, keterbatasan akses air bersih dan kebiasaan buang air sembarangan dapat meningkatkan risiko infeksi yang pada akhirnya mengganggu pertumbuhan anak.

Karena itu, pencegahan stunting menurutnya harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari keluarga, lingkungan, Posyandu hingga fasilitas pelayanan kesehatan.

Sementara itu, Camat Baros Angga Sugia Wijaya menekankan pentingnya peningkatan kapasitas kader agar mereka mampu menjalankan tugas dengan semakin akurat.

Menurutnya, perkembangan pengetahuan dan perubahan standar pelayanan membuat kader harus terus memperbarui kemampuan. Bimtek menjadi salah satu sarana untuk menyegarkan kembali pengetahuan sekaligus bertukar pengalaman mengenai persoalan yang ditemui di lapangan.

“Jangan pernah merasa cukup dengan ilmu yang ada. Bimtek ini harus menjadi ruang untuk meningkatkan kemampuan, bertukar pengalaman dan mencari solusi atas kendala yang ditemukan di lapangan,” ujar Angga.

Ia secara khusus menyoroti akurasi pengukuran pertumbuhan balita. Menurutnya, data yang dihasilkan kader menjadi salah satu dasar untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap anak yang diduga mengalami masalah pertumbuhan.

Kesalahan dalam melakukan pengukuran maupun pencatatan berpotensi membuat kondisi anak tidak teridentifikasi secara tepat.

Angga berharap setelah mengikuti Bimtek, para kader semakin percaya diri dan teliti dalam melakukan pengukuran tinggi maupun panjang badan menggunakan peralatan yang sesuai.

“Ketepatan dalam mengukur dan mencatat adalah kunci. Jika deteksi dini dilakukan secara akurat, balita yang berisiko dapat segera dirujuk ke Puskesmas untuk mendapatkan penanganan,” tandasnya.

Penguatan kapasitas kader di Kelurahan Baros diharapkan mampu memperkuat sistem deteksi dini sekaligus mempercepat intervensi terhadap anak yang berisiko mengalami stunting.

Lebih jauh, kolaborasi antara pemerintah, TP-PKK, kader Posyandu, keluarga dan masyarakat menjadi faktor penting agar upaya penurunan stunting tidak hanya berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menghasilkan perubahan nyata terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak.

The post Ranty Rachmatilah: Perang Melawan Stunting Dimulai dari Posyandu dan Keluarga first appeared on Sukabumi Ku.

Pos terkait