Drama Musikal KUMARA Jadi Jawaban Pendidikan Karakter Ala Dedi Mulyadi

SUKABUMI – Di tengah derasnya pengaruh dunia digital terhadap kehidupan anak-anak dan remaja, sebuah pertunjukan budaya berskala besar hadir membawa semangat berbeda. Melalui drama musikal kolosal KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian, seni pertunjukan tidak hanya dijadikan hiburan, tetapi juga media pembentukan karakter dan pengembangan kecerdasan generasi muda.

Pertunjukan yang digagas sutradara sekaligus akademisi, Indra Gandara, itu menjadi bentuk nyata pemanfaatan seni budaya sebagai ruang pendidikan alternatif yang menyentuh sisi emosional, sosial, hingga spiritual anak-anak.

Indra menjelaskan, gagasan tersebut sebenarnya telah dirintis sejak beberapa tahun terakhir melalui proses kreatif bersama komunitas seni dan anak-anak. Menurutnya, panggung seni memiliki kekuatan besar untuk membangun empati, kedisiplinan, keberanian, serta kemampuan bekerja sama.

“Anak-anak hari ini terlalu banyak mengonsumsi tontonan yang minim nilai. Padahal seni pertunjukan bisa menjadi ruang belajar kehidupan yang sangat lengkap. Kami ingin menghadirkan kembali budaya sebagai media pendidikan karakter,” ujarnya saat latihan gabungan di kawasan Mardiyuana Cikembar.

BACA JUGA : The Last Guardian, Gerakan Budaya Untuk Menjaga Masa Depan Generasi Indonesia dari Kota Sukabumi

KUMARA melibatkan tujuh komunitas seni dengan lebih dari 120 pemain dari berbagai usia. Tidak hanya menampilkan drama dan tari, pertunjukan ini juga menggabungkan musik etnik, pencak silat, permainan tradisional Sunda, hingga pesan tentang pelestarian alam dan budaya leluhur.

Menariknya, konsep yang digunakan dalam KUMARA disebut tidak sekadar berbasis kreativitas artistik, tetapi juga melalui pendekatan akademik. Indra menyebut permainan tradisional atau kaulinan barudak Sunda yang diangkat dalam pertunjukan telah diteliti dan terbukti mampu membantu perkembangan berbagai aspek kecerdasan anak.

“Ketika anak-anak terlibat dalam proses seni seperti ini, mereka belajar komunikasi, kepemimpinan, kepekaan sosial, hingga kreativitas secara bersamaan. Nilai-nilai itu tumbuh alami melalui pengalaman di atas panggung,” katanya.

Ia menilai seni pertunjukan dapat menjadi metode pendidikan yang efektif karena memberi pengalaman langsung kepada anak untuk memahami kerja sama, sportivitas, rasa hormat, dan tanggung jawab.

BACA JUGA : 

Pesan tersebut sejalan dengan dorongan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang belakangan menekankan pentingnya seni dan teater masuk ke lingkungan pendidikan sebagai bagian penguatan karakter pelajar.

Dalam pertunjukan KUMARA, para pemain tidak hanya tampil sebagai penghibur, tetapi juga diajak memahami makna setiap cerita dan gerakan yang dimainkan. Nilai kebersamaan, keberanian, rasa syukur, hingga penghormatan terhadap alam dan budaya diwariskan melalui proses kreatif yang melibatkan seluruh peserta.

Selain menjadi pertunjukan budaya, KUMARA juga diproyeksikan sebagai gerakan kebudayaan yang mendorong seni kembali hadir sebagai ruang pendidikan dan pembangunan karakter generasi muda.

Pertunjukan KUMARA Lemah Karuhun: The Last Guardian dijadwalkan berlangsung pada 14 Juni 2026 di Gedung Juang Kota Sukabumi dalam dua sesi, pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB.

Indra berharap konsep serupa nantinya dapat diterapkan lebih luas di berbagai daerah sebagai model pendidikan berbasis budaya.

“Harapannya anak-anak Indonesia tumbuh bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, karakter kuat, dan cinta terhadap budayanya sendiri,” pungkasnya.

The post Drama Musikal KUMARA Jadi Jawaban Pendidikan Karakter Ala Dedi Mulyadi first appeared on Sukabumi Ku.

Pos terkait