SUKABUMI – Upaya menekan angka stunting di Kota Sukabumi tidak cukup hanya mengandalkan intervensi kesehatan. Pemenuhan gizi, pola pengasuhan anak, kondisi lingkungan, serta pemahaman keluarga terhadap kebutuhan nutrisi menjadi persoalan yang perlu ditangani secara bersamaan.
Isu tersebut menjadi perhatian Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Sukabumi yang terus mendorong inovasi dan penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mempercepat penurunan stunting. Salah satu langkah yang dikembangkan adalah Program Genting atau Gerakan Nutrisi Telur untuk Keluarga Berisiko Stunting.
Kepala Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Manusia Bappeda Kota Sukabumi, Nenden Eviyanti, mengatakan bahwa pencegahan stunting membutuhkan perencanaan yang terarah serta keterlibatan berbagai pihak. Hal ini karena risiko stunting berkaitan dengan beragam faktor yang memengaruhi kehidupan keluarga, termasuk pemenuhan kebutuhan gizi dan kebutuhan dasar lainnya.
Menurut Nenden, pemerintah perlu memastikan intervensi yang diberikan benar-benar menjangkau keluarga yang membutuhkan. Upaya tersebut juga harus dilakukan secara berkelanjutan agar tidak berhenti pada pemberian bantuan semata.
“Penanganan stunting harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan. Karena itu, kami terus mendorong inovasi dan penguatan kolaborasi lintas sektor agar intervensi yang diberikan benar-benar menyentuh keluarga yang membutuhkan,” kata Nenden.
Melalui Program Genting, keluarga yang masuk kategori berisiko stunting mendapatkan intervensi berupa dukungan nutrisi, khususnya untuk membantu memenuhi kebutuhan protein. Namun, pemberian bantuan tersebut perlu diiringi edukasi agar keluarga memahami pentingnya asupan gizi yang cukup bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Bagi Bappeda, perubahan pemahaman dan kebiasaan keluarga menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan stunting. Pengetahuan mengenai pemenuhan gizi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga manfaat intervensi tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek.
“Yang paling penting bukan hanya pemberiannya, tetapi bagaimana keluarga memahami kebutuhan gizi dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini yang terus kami dorong melalui berbagai program dan inovasi,” jelasnya.
Program Genting juga mencerminkan pentingnya kerja sama antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader, dan unsur masyarakat lainnya. Melalui koordinasi tersebut, intervensi diharapkan dapat diberikan kepada keluarga sasaran sekaligus mendukung pencegahan munculnya kasus stunting baru.
Nenden menjelaskan, Bappeda memiliki peran dalam menyelaraskan berbagai program pembangunan manusia agar berjalan secara terintegrasi. Karena itu, inovasi diperlukan untuk memastikan kebijakan dan kegiatan yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta memberikan manfaat nyata.
“Bappeda terus berupaya melakukan inovasi. Setiap program harus memiliki dampak dan manfaat yang bisa dirasakan masyarakat, terutama dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.
Ke depan, penguatan sinergi antarlembaga diharapkan dapat terus dilakukan agar penanganan stunting tidak berjalan secara terpisah-pisah. Keterlibatan keluarga juga menjadi faktor penting, terutama dalam menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan nutrisi, dan menerapkan pengasuhan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Bappeda Kota Sukabumi berharap berbagai upaya tersebut dapat berkontribusi terhadap percepatan penurunan stunting sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Melalui pendekatan yang menyentuh aspek gizi, keluarga, dan lingkungan, pencegahan stunting diharapkan menjadi tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi juga pada keberlanjutan pendampingan dan penerapan perilaku hidup sehat di tingkat keluarga.
The post Lewat Program Genting, BAPPEDA Kota Sukabumi Terus Tekan Angka Stunting first appeared on Sukabumi Ku.









