Panggung Rakyat Sukabumi Jadi Ruang Perlawanan terhadap Kekerasan dan Isu HAM

SUKABUMI – Gerakan Mahasiswa (Gema) Sukabumi menggelar kegiatan bertajuk Panggung Rakyat Sukabumi sebagai bentuk respons terhadap kondisi demokrasi yang dinilai semakin menyempit. Kegiatan tersebut berlangsung selama satu hari penuh di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi sejak pagi hingga pukul 23.00 WIB, dengan rangkaian agenda politik dan budaya, Minggu (10/05/2026).

Berbagai kegiatan digelar dalam acara ini, mulai dari orasi politik, teatrikal puisi, hingga nonton bareng film dokumenter berjudul Pesta Babi. Selain itu, diskusi publik turut dihadirkan dengan melibatkan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) guna membahas isu hukum dan hak asasi manusia.

Bacaan Lainnya

Acara kemudian ditutup dengan penampilan musik dari tiga grup band, yang terdiri dari dua band mahasiswa dan satu band dari masyarakat umum.

Koordinator GEMA Sukabumi, Rayhan Kharimatullail, mengatakan bahwa Panggung Rakyat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menegaskan hak dalam berkumpul dan menyampaikan pendapat.

“Ruang aktivitas sipil, baik mahasiswa maupun pelajar, hari ini sangat sempit. Panggung ini untuk mengingatkan bahwa berkumpul dan berpendapat adalah hak yang utuh,” ujarnya diwawancarai sukabumiku.id.

Ia menambahkan, kegiatan ini juga mengajak berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, pelajar, pengemudi ojek online, hingga aliansi masyarakat, agar lebih peka terhadap isu politik, hukum, dan HAM. Dalam kegiatan tersebut, solidaritas untuk Papua turut disuarakan.

Panitia menyebutkan, pelibatan YLBHI dan Lembaga Marsinah Idea menjadi hal baru dalam gerakan mahasiswa di Sukabumi. Momentum Mei dipilih karena bertepatan dengan peringatan wafatnya Marsinah, aktivis buruh yang meninggal pada Mei 1993.

“Fokus kami hari ini adalah hukum dan demokrasi, sekaligus mengenang Marsinah,” kata Rayhan.

Selama kegiatan berlangsung, sejumlah aparat keamanan terlihat berjaga di sekitar lokasi untuk memastikan acara berjalan kondusif.

Dalam pernyataannya, Rayhan juga menegaskan kritik terhadap kondisi sosial saat ini. Ia menyebut tidak ada yang benar-benar dalam kondisi baik.

“Tidak ada yang selamat. Guru tidak selamat, buruh tidak selamat, Marsinah tidak selamat, kondisi demokrasi hari ini juga tidak selamat,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan menanggalkan ego masing-masing.

“Yang bisa kita kepalkan adalah harapan dan solidaritas. Kita fokus pada kecintaan kita: kesejahteraan, kemakmuran, bisa bersalaman tanpa khawatir. Musuh kita sama, yaitu kezaliman,” pungkasnya.

Pos terkait