
Bogorku.id NANGGUNG – Beredarnya rekaman video di media sosial soal dugaan pencemaran limbah beracun di Sungai Cikaniki, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, memicu kekhawatiran mendalam sekaligus kekecewaan warga dan aktivis lingkungan.
Sungai yang menjadi tumpuan hidup ribuan warga ini diduga terus-menerus dibuang limbah sianida dan B3 dari aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Berdasarkan hasil uji laboratorium pada insiden sebelumnya, kandungan sianida di sungai tercatat jauh melampaui ambang batas aman, yang pernah menyebabkan ribuan ikan mati mendadak. Dugaan kuat menunjuk pada aktivitas pengolahan emas liar atau yang dikenal warga sebagai “gentong” di hulu dan bantaran sungai.
Pihak Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor memang sudah berkali-kali turun verifikasi dan penelusuran, namun penindakan sering dinilai sekadar seremonial: penertiban alat sejenak tanpa penutupan permanen maupun proses hukum yang tuntas. Akibatnya, sungai kerap berubah warna pekat dan mematikan ekosistem, kasus berulang dari tahun ke tahun di lokasi yang sama.
Warga menuntut aparat penegak hukum tidak hanya menindak penambang di lapangan, tapi juga mengusut tuntas pihak yang membiayai dan bertanggung jawab di balik perusakan lingkungan bertahun-tahun ini.
Java Region CSR and ER Sub Division Head PT Antam Tbk UBPE Pongkor, Agustinus Koko Susetio membenarkan adanya laporan pencemaran.
“Kami sangat prihatin, apalagi saat musim kemarau air Sungai Cikaniki sangat dibutuhkan warga,” ujarnya.
Ia menegaskan penindakan PETI adalah kewenangan penuh APH dan instansi pemerintah, namun PT Antam siap berkoordinasi dan mendukung sesuai peran. Sambil berkomitmen menjaga lingkungan di wilayah operasionalnya.
PT Antam juga turut membantu penanganan dampak kekeringan melalui pembangunan sumur bor dan distribusi air bersih ke desa-desa terdampak.
”Saat ini kami juga sedang merealisasikan pembangunan Sumur Bor dan pendistribusian air bersih ke Desa-desa untukengatais persoalan kekeringan di musim kemarau,” ujarnya .
Kepala Desa Kalong Liud, Jani Nurzaman, mengungkapkan sekitar 1.200 Kepala Keluarga dari 6 RW di wilayahnya—mulai Kampung Bongas hingga Kalong Karees—mengandalkan Sungai Cikaniki untuk kebutuhan sehari-hari, bahkan hingga dikonsumsi.
Ia juga sudah melaporkan perubahan warna air ke pemerintah kecamatan.
Pada rapat terbatas yang digelar pada 22 Juli lalu sepakat melakukan sosialisasi pencegahan, namun warga tetap berharap sumber pencemaran segera diberantas.
Saat ini, Pemdes bersama Muspika dan PT Antam berkoordinasi menyediakan sumur bor alternatif demi menjamin kebutuhan air bersih warga di tengah musim kemarau.
”Saya berharap sungai Cikaniki bisa kembali digunakan untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat dari mulai mencuci, mandi dan yang lainnya,” tukasnya. (Gus)
The post Sungai Cikaniki Diduga Tercemar Limbah, Warga Mendesak APH Usut Tuntas Penyebab Perubahan Air first appeared on Bogor Ku.

















