
SUKABUMI – Museum Prabu Siliwangi Kota Sukabumi tengah menuntaskan penyusunan katalog ilmiah koleksi keramik bersejarah hasil kolaborasi dengan para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Program ini menjadi langkah penting dalam mendokumentasikan sekaligus memperkenalkan nilai sejarah koleksi museum kepada masyarakat luas.
Sebanyak 72 artefak keramik telah melalui proses dokumentasi awal dan kini memasuki tahapan kurasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 40 hingga 50 koleksi terbaik akan dipilih untuk dimuat dalam katalog ilmiah yang ditargetkan selesai pada Juli 2026.
Peneliti BRIN bidang sejarah dan keramologi, Yusmaini Eriawati, menjelaskan bahwa koleksi yang diteliti berasal dari berbagai kawasan dunia dan mencerminkan perjalanan panjang perdagangan internasional yang pernah terhubung dengan Nusantara.
“Koleksi yang dimiliki museum ini sangat beragam dan memiliki nilai akademik tinggi karena mewakili berbagai periode sejarah penting dari Asia hingga Eropa,” ujarnya.
BACA JUGA : 16 Pesilat Italia Dalami Pencak Silat di Ponpes Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi
Menurut Yusmaini, salah satu keunggulan koleksi tersebut adalah keberadaan keramik Tiongkok dari berbagai dinasti besar, mulai era Tang, Song, Yuan, Ming hingga Qing. Selain itu terdapat pula keramik Jepang jenis Satsuma yang tergolong langka, serta sejumlah koleksi Eropa yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan pada masa kolonial.
Tidak hanya menampilkan koleksi luar negeri, katalog tersebut juga akan memuat artefak lokal berupa tembikar terakota peninggalan era Majapahit. Kehadiran benda tersebut dinilai penting untuk menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara juga memiliki tradisi produksi keramik yang berkembang pada masanya.
Penyusunan katalog tidak hanya berfungsi sebagai inventaris museum, tetapi juga diproyeksikan menjadi referensi ilmiah bagi kalangan akademisi, mahasiswa, peneliti, hingga masyarakat umum yang ingin mempelajari sejarah perdagangan, budaya, dan peradaban masa lalu.
BACA JUGA : Ponpes Dzikir Alfath Berangkatkan Ustad Garis Depan Untuk Bantu Desa Tertinggal di Indonesia Timur
Sementara itu, Pemilik Museum Prabu Siliwangi sekaligus Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Fath Sukabumi, KH Fajar Laksana, menyampaikan bahwa katalog yang sedang disusun merupakan hasil dari penelitian tahap keenam terhadap koleksi museum.
Menurutnya, dokumen tersebut akan menjadi dasar akademik yang dapat digunakan pemerintah dalam proses identifikasi dan penetapan status artefak maupun cagar budaya terhadap benda-benda yang telah diteliti.
“Katalog ini menjadi bukti bahwa koleksi yang kami miliki telah melalui penelitian ilmiah oleh para ahli sehingga layak menjadi bahan edukasi, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan,” kata Fajar.
Ia mengungkapkan, dari sekitar 1.000 koleksi keramik yang tersimpan di museum, baru sekitar 200 artefak yang telah diteliti secara mendalam. Namun hasil penelitian tersebut sudah mampu menggambarkan perjalanan sejarah yang luas, termasuk hubungan perdagangan internasional yang pernah berlangsung di wilayah Nusantara.
Ke depan, Museum Prabu Siliwangi juga berencana mengembangkan konsep penyajian sejarah berbasis koleksi atau storyline museum. Melalui konsep tersebut, setiap artefak tidak hanya dipamerkan sebagai benda koleksi, tetapi juga menjadi media untuk menceritakan perkembangan sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari berbagai periode sejarah Indonesia.
Selain menjadi pusat edukasi dan penelitian, keberadaan museum yang didukung hasil kajian ilmiah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan sektor wisata budaya di Kota Sukabumi dan memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi sejarah yang memiliki daya tarik nasional bahkan internasional.
The post Jejak Perdagangan Dunia Tersimpan di Sukabumi, Museum Prabu Siliwangi dan BRIN Siapkan Katalog Ilmiah first appeared on Sukabumi Ku.

















