CIANJUR — Selama ini, banyak guru pendidikan anak usia dini (PAUD) di daerah 3T atau tertinggal, terdepan, dan terluar mengajarkan calistung (baca, tulis, hitung) dengan cara kaku dan monoton, sehingga anak-anak justru tumbuh takut dan bosan terhadap huruf maupun angka. Persoalan itu coba dijawab lewat pelatihan Cahaya Indonesia Learning Model (CILM) bagi guru-guru PAUD di Kecamatan Pasir Kuda, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.
Wilayah Pasir Kuda dikenal sebagai kawasan berbukit dan pedalaman dengan akses transportasi terbatas. Tidak sedikit satuan PAUD di sana yang bangunannya rusak dan kegiatan belajar terpaksa berlangsung di ruang darurat, sementara guru-gurunya sebagian besar berasal dari lembaga swadaya masyarakat yang belum tersertifikasi.
Menjawab kondisi tersebut, tim dosen Universitas Islam Bandung (Unisba) yang diketuai Dr. Masnipal, M.Pd., bersama anggota Arif Hakim, M.Pd., Dinar Nur Inten, M.Pd., dan Dr. Nadri Taja, M.Pd., menggelar program pengabdian kepada masyarakat berupa pelatihan CILM. Pelatihan dilaksanakan oleh satu pelatih utama, dua asisten pelatih, dan satu pemain alat musik, dalam dua sesi berdurasi empat jam.
Kegiatan dibagi menjadi empat tahap, yaitu pembekalan pengetahuan metodis, demonstrasi oleh pelatih utama, praktik lewat peer teaching dan permainan kelompok, hingga evaluasi dan persiapan penerapan di lembaga masing-masing.
Peserta yang membutuhkan pendalaman lebih lanjut bahkan diajak mengamati langsung penerapan metode ini di TK Laboratorium Cahaya Indonesia.
“Kami ingin membuka wawasan guru bahwa belajar membaca, menulis, dan berhitung untuk anak usia dini tidak harus menjadi kegiatan yang menegangkan. Kreativitas guru dalam memanfaatkan alat peraga, permainan, dan lagu justru menjadi kunci utama agar anak senang belajar,” ujar Dr. Masnipal.
Pada komponen membaca-menulis, anak tidak langsung dikenalkan pada huruf, melainkan lebih dulu dilatih motorik halusnya lewat bermain plastisin, meremas, menggunting, hingga menjahit, sebelum akhirnya diajak menulis huruf mulai dari di udara, di pasir, hingga di kertas. Salah satu keunikan yang menarik perhatian peserta adalah urutan pengenalan huruf vokal yang dimulai dari o, i, u, e, baru kemudian a, berbeda dari urutan konvensional a, i, u, e, o.
Sementara pada komponen berhitung, CILM menempatkan rasa suka anak terhadap angka sebagai tujuan utama, bukan sekadar kemampuan berhitung cepat. Pembelajaran dirancang melalui tujuh tahapan bertahap, mulai dari mengenal lambang bilangan hingga soal cerita sederhana, yang dikemas dalam permainan belanja-belanjaan, memancing angka, dan lomba menempel angka, dengan dukungan kartu bilangan, nyanyian, serta alat musik.
Hasil evaluasi mencatat antusiasme tinggi dari peserta. Meski hanya 6,2 persen guru yang sebelumnya pernah mengenal CILM, seluruh peserta menyatakan komitmen penuh untuk menerapkan metode ini di lembaganya masing-masing, sementara 94,4 persen berencana melaporkan hasil pelatihan kepada kepala sekolah dan orang tua siswa.
Tim berharap, melalui penerapan CILM secara konsisten, anak-anak PAUD di Kabupaten Cianjur dapat tumbuh dengan fondasi literasi dan numerasi yang kuat, sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap proses belajar sejak usia dini.

















